Say hello dulu dong sama Putri.

-----
Semua orang dibuat terkejut dengan kedatangan Tasya dan Andri secara tiba-tiba. Yang membuatnya lebih terkejut adalah Tasya yang pulang dengan pakaian lusuh, rambut acak-acakan, hidung merah, dan mata yang sembab.
Nayya dengan panik membawa langsung Tasya kedalam kamar. Sedangkan yang lain menatap tajam Andri seraya berkacak pinggang. Andri menggaruk tengkuknya. Percayalah di tatap tajam seperti ini membuat siapa saja canggung.
"Kenapa?" tanya Andri hati-hati.
"Kenapa?!" ulang Hyona berpekik tertahan.
"Lo apain Tasya sampe pulang-pulang kayak gitu Ndri?" tanya Riana pelan namun tajam.
"Gue cuman nenangin doang. Tadi pas gue balik dari toko roti, gue liat Tasya nangis sendirian di taman, yaudah gue samperin." jelasnya seraya mengangkat kantung keresek roti miliknya.
Tatapan tajam mereka kini berubah menjadi kerutan heran. Apa yang Andri bilang tadi? Menangis? Berbagai pertanyaan kini mulai bermunculan di benak mereka bertiga.
"Nangis?" beo Sesil. Andri mengangguk seraya membuka bungkus roti coklat.
"Iya, kalo lo penasaran tanya aja sama orangnya." balas Andri dengan mulut penuh roti.
Nayya menuruni tangga dengan langkah biasa. Ia baru saja mengantar Tasya ke kamar dan meninggalkan gadis itu untuk menbersihkan badan.
"Tasya kenapa bisa gitu Ndri?" baru sampai anak tangga terakhir, Nayya sudah melemparkan pertanyaan itu pada Andri yang sedang sibuk dengan rotinya.
Andri menatap sekilas Nayya. "Kalo mau kalian tanya aja sendiri sama orangnya." balas Andri acuh. Nayya mendengus pelan. Ia melirik kantung keresek yang berdiam damai di atas meja. Ide jahil mulai tersusun rapi.
Andri membelakan matanya ketika melihat keresek besar miliknya di ambil oleh Nayya. "Balikin roti gue heh!" seru Andri kesal. Nayya malah memasang wajah mengejek seraya menggeleng.
"Enggak sebelum lo jawab pertanyaan gue. Gue yakin lo tau penyebab Tasya pulang-pulang kayak gini." Andri mengacak rambutnya frustasi.
"Jadi cewek kok nggak mandiri banget sih." gumamnya pelan.
"Cepet jawab heh!" sentak Sesil dengan mata yang melotot tajam pada Andri.
"Tasya nangis gara-gara bokapnya nikah lagi." balas Andri dengan perasaan dongkol. Ia setelahnya merebut paksa keresek berisi roti dari genggaman Nayya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alsya | Complete
Teen FictionDingin, datar, kaku, dan tak mengenal cinta. Itu lah seorang ketua geng Alvazma, Putra Alvano Albarak. Berawal dari tabrakan yang tak di sengaja di koridor kelas XI, yang membuat Vano penasaran dengan gadis ceroboh itu. Dengan mata tajam nya, ia dia...
