Tiga Puluh Empat

1.4K 201 136
                                        

-🔓-

"Draco kau sudah di tunggu Pucey" teriak Blaise dari luar kamar ganti.

"Aku akan keluar sebentar lagi" ucap Draco.

Draco memasang pengaman kakinya. Lalu mencoba memasang pengaman untuk tangannya. Tapi ia sedikit kesulitan.

Chryssa yang sedari tadi melihatnya dari ambang pintu mendengus kesal. Chryssa melangkah mendekati Draco, lalu meraih tangan Draco dan memasangkan pengaman di tangan Draco. Setelah selesai memasangkan pengaman di kedua tangan Draco. Chryssa meraih sepasang sarung tangan. Dan memasangkannya di kedua tangan Draco. Chryssa juga meraih jubah Quidditch Draco, ia memasangkannya juga di tubuh Draco. Chryssa merapihkan sedikit jubah Draco, lalu beralih ke rambutnya. Chryssa merapihkan rambut Draco yang berantakan.

Jangan tanyakan kenapa Chryssa melakukan semua ini, ini juga bukan pertanda kalau dia sudah memaafkan Draco. Dia masih sangat kesal, tapi seperti apa yang sudah ia katakan kemarin. Dia tidak ingin mum Cissy sampai bersedih jika harus melihat putranya kacau lagi. Jadi Chryssa melakukannya semata-mata hanya karena mum Cissy dan karena tugasnya sebagai, yeah, walaupun terpaksa, dia harus tetap mengakui bahwa dia adalah pendamping Draco.

Setelah Chryssa selesai membantu Draco bersiap, Chryssa melangkah mundur menjauhkan dirinya dari Draco, tapi Draco menarik tangan Chryssa mendekat lagi. Draco memberikan kecupan singkat di dahi Chryssa.

"Maafkan aku," ucap Draco.

"Dan terimakasih" lanjut Draco.

Chryssa hanya menatap Draco datar. Draco juga tak mengerti dengan Chryssa. Dia menbantunya dalam banyak hal, melakukan hal seperti yang seharusnya di lakukan pendampingnya, seperti hubungan mereka sedang tidak ada masalah, tapi Chryssa tetap diam, enggan berbicara pada Draco, dan enggan menatap Draco. Chryssa tidak pernah memberontak untuk pergi, tapi dia juga tidak menunjukkan bahwa dia sudah memaafkan Draco. Draco sudah dibuat bingung olehnya beberapa minggu ini. Yang bisa Draco lakukan hanyalah menuruti keinginannya, dan mengikuti alur yang Chryssa buat.

"I love you, Mila" Draco mengecup sekali lagi dahi Chryssa.

Draco tak mengharap balasan, karena tentu Chryssa tak akan mau membalasnya.

"Aku akan menghampirimu di tribun setelah pertandingan selesai" ucap Draco sambil mengelus pipi Chryssa.

Mata Chryssa ia alihkan kebawah, enggan menatap Draco.

Chryssa paham maksud ucapan Draco, itu artinya dia harus menunggu Draco di tribun.

"Draco!! Cepatlah!! Pertandingan akan dimulai" sekarang suara Theo yang terdengar dari luar kamar ganti.

Draci menarik sapunya, lalu tangan sebelahnya lagi meraih tangan Chryssa dan menariknya mengikuti langkahnya. Chryssa hanya bisa mengikuti langkah Draco. Karena ia malas protes dan malas berdebat dengan Draco.

Draco mengantarkan Chryssa naik dulu ke tribun, ia meninggalkan Chryssa tepat di bangku dekat Pansy dan Daphne. Chryssa sempat mendengar Draco menitipkan Chryssa pada Pansy dan Daphne, dan kedua temannya itu mengangguk. Setelah mengantarkan Chryssa, Draco langsung pergi ke tempat teman-temannya. Dia sempat diomeli sebentar oleh Adrian Pucey. Draco melewatkan penjelasan Adrian tentang strategi permainan yang sudah ia rancang. Pantas bukan Adrian mengomel?

AmigdalaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang