Sontak Faolan terjatuh di atas kap mobilnya, ketika Asta yang baru tiba langsung menghampiri dan menghajar wajahnya.
"Lo apain Kaia?!" Asta mendesis sembari mencengkeram baju bagian leher Faolan dengan sangat erat, seperti mencekik. Buku-buku jarinya sangat menonjol, menunjukkan seberapa emosi ia malam ini.
"D-dengerin gue dulu!" ujar Faolan sambil berusaha melepas cekalan Asta yang terasa menyesakkan.
Asta tidak mengindahkan permintaan Faolan. "Lo cari mati?!" desis Asta seraya menekan dada Faolan.
Faolan yang makin kesusahan untuk bernafas, mencoba sekuat tenaga mendorong tubuh Asta. "GUE BILANG DENGERIN GUE DULU, ANJ**G!!" sembur Faolan begitu berhasil lepas dari tekanan Asta. Setelahnya ia terbatuk-batuk dengan nafasnya yang belum stabil.
Asta jadi teringat tujuan sebenarnya ke tempat ini adalah untuk menjemput Kaia. Belum lama tadi, ia mendapat telepon dari nomor yang tidak ia kenal—yang ternyata Faolan—yang menyuruhnya untuk segera datang ke tempat ini, menjemput Kaia. "Mana Kaia?" tanya Asta dengan nada bicara sudah tidak setinggi tadi.
Sambil menghembuskan nafas yang berat, Faolan memutari mobilnya, lalu membuka pintu mobil belakangnya.
Asta yang mengikuti gerakannya, membelalakkan mata maksimal melihat apa yang tersaji di depannya. Kaia, masih dengan seragam sekolah yang menempel di tubuhnya, terbaring meringkuk di jok mobil Faolan. Dengan cepat Asta langsung masuk ke dalam mobil Faolan, memastikan kondisi Kaia. "Kai, Kaia," Asta menepuk-nepuk pipi Kaia, berusaha menyadarkannya.
Asta benar-benar kehabisan kata-kata melihat kondisi Kaia yang seperti ini. Asta tau, kemungkinan Kaia terluka secara fisik hampir tidak ada. Kaia tidak sadarkan diri bukan lain karena mabuk.
Sama seperti Faolan, Asta juga tau Kaia seperti apa. Tidak mungkin Kaia sengaja datang ke tempat ini untuk mabuk apalagi dengan masih mengenakan seragam sekolah. Sudah pasti ada yang sengaja membuat Kaia jadi seperti ini. "Siapa?" tanya Asta dengan kedua matanya yang melegam.
"Dua laki. Satunya udah kabur, satunya udah diberesin sama Ben dan Ian."
"Lo tau siapa mereka?" tanya Asta lagi, menuntut jawaban yang lebih jelas.
Faolan menghembuskan nafas. Ternyata berbicara dengan Asta jauh lebih menyusahkan daripada berbicara dengan Ben. "Nggak tau. Gue nggak kenal mereka."
Gigi Asta saling beradu. Tangannya mengepal erat. Ingin rasanya Asta cari orang itu sampai ketemu sekarang juga. Namun hal itu tidak bisa ia lakukan. Saat ini, Kaia lebih penting. Segera Asta rengkuh tubuh gadis itu, lalu ia keluarkan dari mobil Faolan.
Rasanya ingin sekali Faolan menggantikan posisi Asta saat ini. Menggendong Kaia, menyelamatkannya.
Dengan Kaia di dalam rengkuhannya, Asta berhenti sesaat di hadapan Faolan yang tak berhenti memperhatikan Kaia. "Thanks." Kata Asta singkat sebelum benar-benar membawa pergi Kaia.
Bukan hanya dari hadapan Faolan, tetapi juga dari hidup Faolan. Asta telah membawa gadis yang ia suka pergi. Asta telah meyakinkan dirinya bahwa gadis itu memang bukan untuknya.
Dengan ini, Faolan telah resmi kehilangan Kaia sepenuhnya.
*
Beberapa kali Asta melirik ke spion atas untuk melihat keadaan Kaia yang ia baringkan di jok belakang. Meski gadis itu terpejam, sekali dua kali, Kaia masih meracau tidak jelas.
Melihat kondisi Kaia yang seperti itu, membuat Asta gila. Hanya dalam sekejap setelah ia mengantar gadis itu ke rumahnya, kondisi Kaia sudah berubah sedrastis ini? Sebenarnya apa yang telah terjadi pada Kaia? Siapa yang telah melakukan ini padanya? Bagaimana Kaia melaluinya? Apakah Kaia ketakutan? Apakah Kaia menangis? Apakah Kaia tertekan? Apakah Kaia mengharapkan pertolongannya?
Asta memukul setir mobil di depannya dengan kencang sebagai pelampiasan kegilaannya. Asta marah, juga menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Kaia. Sebagai penebusan, Asta berjanji akan membalas orang yang telah membuat Kaia seperti ini.
*
Asta membawa Kaia pulang ke rumahnya. Asta ingat, tadi Kaia sempat mengatakan kalau malam ini papa masih di Surabaya. Jadi jelas tidak mungkin bagi Asta meninggalkan Kaia di rumah sendiri setelah peristiwa tidak terduga ini terjadi. Asta ingin menjaga Kaia, memastikan gadis itu baik-baik saja, serta tidak ingin peristiwa buruk lainnya terjadi pada Kaia selagi tidak ada seorang pun di sekitar Kaia.
Sampai di kamarnya yang bernuansa serba hitam dan gelap, dengan pelan dan hati-hati, Asta membaringkan tubuh Kaia ke atas ranjangnya yang lebar dan luas. Asta melepas sepatu Kaia, lengkap dengan kaus kakinya. Lalu ia menarik selimut hingga mencapai dada Kaia.
Sekarang Kaia sudah berada bersamanya. Sekarang Kaia sudah aman dan sudah bisa beristirahat. Asta menghembuskan nafas sembari duduk di samping ranjang tempat Kaia terbaring. Cowok itu memperhatikan wajah Kaia yang menutup kedua matanya, namun kedua alisnya menyatu. "Maaf." bisik Asta menyesal sambil merapikan helai-helai rambut Kaia yang menjatuhi wajahnya. "Gue bener-bener menyesal." Lanjut Asta sambil menunduk. Kejadian ini tampak terjadi persis setelah Asta mengantar Kaia pulang. Andai saja Asta tidak meninggalkan Kaia, Kaia tidak harus mengalami hal ini.
Saat Asta menunduk, ia melihat kaos hitam polos yang ia kenakan dicimit oleh tangan mungil Kaia. Pelan-pelan, Asta kembali mengangkat wajah. Ia melihat, gadis yang terbaring itu membuka kedua matanya. Tidak sepenuhnya terbuka, tapi Asta bisa melihat iris matanya. Asta juga melihat, gadis itu mengambil posisi duduk dengan sedikit kesusahan.
Untuk beberapa detik, mereka hanya diam saling tatap sampai terdengar racauan Kaia kembali, "Bodoh. Gue itu apanya lo sih? Kalo lo suka sama gue, bilang yang jelas! Biar gue paham! Bodoh!" gadis itu memukul dada Asta. Katanya, perkataan orang ketika mabuk adakalanya adalah perkataan jujur yang dalam keadaan sadar tidak bisa diungkapkan. Dan inilah yang Kaia katakan.
Yang membuat Asta terdiam.
Jari telunjuk Kaia mulai aktif, bergerak menyentuh lalu mengetuk-etuk bibir Asta dengan pelan. "Bisa kan lo bilang suka sama gue?"
Tubuh Asta menegang.
"Buruan bilang... Gue suka Kaia. Sukaaaa bangeeeet sama Kaia! Cinta mati sama Kaia!" gadis itu merajuk manja sambil menyeringai.
Sial! Kenapa di saat-saat seperti ini Kaia malah bertingkah seperti ini? Jujur saja, Asta jadi sedikit menikmatinya. Masalahnya jika dalam keadaan sadar, mana mungkin Kaia akan bertingkah seperti ini.
"Asta!" desaknya sambil mendekatkan diri pada Asta.
Asta kesusahan menelan ludahnya sendiri. Saat ini Asta sedang bertarung dengan dirinya sendiri. Menahan diri atau lepas kendali. Jika sampai lepas kendali, maka ini akan jadi pengalaman pertamanya.
"Alastair Ronan Kannon." Satu bisikan nakal Kaia membuat cowok itu seperti terhipnotis. Atau lebih tepatnya mulai lepas kendali. Seluruh perhatian dan pikirannya saat ini hanya tertuju pada Kaia, gadis yang tak bisa ia hindarkan, tak bisa ia tolak.
Namun di detik berikutnya, Asta kembali bisa mengendalikan diri. Ia sadar, ia tidak boleh ikut mabuk. Kalau iya, apa bedanya ia dengan Ben? Memanfaatkan cewek yang sedang tidak sadar? Asta tidak mau disamakan dengan Ben. Lagipula Asta tidak mau melakukan hal itu pada Kaia, gadis yang ingin ia jaga.
Segera Asta tangkup kedua pipi Kaia yang berada tepat di depan wajahnya. Asta tatap kedua mata cewek itu lekat, "Good night, Kai—"
Sebelum Asta menyelesaikan kalimatnya, lebih dulu Kaia memuntahkan isi perutnya di baju Asta. "KAIAAAA!!!"
KAMU SEDANG MEMBACA
ALASTAIR
Novela Juvenil(COMPLETE) Dia adalah seorang pemuda yang mendekati sempurna secara fisik, namun minus secara akal. Dia tampan, tetapi arogan. Dia tinggi, tetapi suka semaunya sendiri. Dia memiliki tubuh yang wangi, tetapi egonya tak tertandingi. Dia berasal dari k...
