L

1.6K 74 19
                                        

Gadis itu menggigit bibir bawahnya seraya mendecih lirih. Saat ini Asta tengah berdiri di depannya, tepat menghadap dirinya yang pagi ini baru saja tiba di sekolah. Setelah makan di Sawung malam itu, ini adalah kali pertama Kaia kembali bertatap muka dengan Asta.

"Ikut gue." rupanya cowok itu hanya melewati Kaia begitu saja. Tetapi dengan embel-embel sebuah perintah yang tidak bisa Kaia tolak.

Rupanya Asta meminta Kaia mengikutinya untuk pergi ke kantin. Seperti pagi-pagi di hari lain, kantin selalu tidak seramai ketika siang hari. Kebanyakan siswa sepertinya sudah sarapan di rumah sebelum berangkat ke sekolah.

Dua di antara sedikit siswa yang ada di kantin selain Asta dan Kaia adalah Meg dan Licia. Melihat kedatangan mantan pacar dengan gadis lain, membuat punggung Licia menegak. Tubuhnya juga mendadak tegang. Rasa lapar di perutnya hilang seketika. Diganti dengan rasa penasaran akan apa yang dilakukan oleh sepasang cowok dan cewek yang sudah berduaan sepagi ini.

"Mau apa? Ngerjain PR lo lagi? Nggak mau." Kaia membuka mulut lebih dulu setelah disuruh duduk di hadapan Asta sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Udah normal ternyata." Kata-kata Asta membuat Kaia menatapnya dengan heran. Asta mengambil pulpen yang sudah ia keluarkan dari ransel sebelumnya bersamaan dengan bukunya, lalu ia memukulkannya dengan cukup keras di kepala Kaia.

"Aissh!"

Tidak Asta hiraukan keluhan Kaia barusan. Asta terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri yang tak berhenti bersyukur karena Kaia sudah kembali banyak berbicara seperti Kaia yang biasa. Tidak seperti malam terakhir mereka bertemu.

"Udah cepet kerjain!" lanjutnya kemudian sambil sekali lagi memukul kepala Kaia menggunakan pulpen. Seolah masih kurang merundung gadis itu, Asta melempar pulpen yang ia gunakan untuk memukul kepala Kaia pada Kaia.

Sambil menggerutu karena kepalanya yang sakit dan kesal karena disuruh-suruh sepagi ini, tangan Kaia mulai bergerak mengerjakan soal-soal PR Asta dengan otaknya yang terbagi. Satu bagian fokus untuk mengerjakan PR, satu bagian lainnya sibuk memikirkan Asta barusan. Apa Asta masih mengingat kata-kata ngawurnya malam itu?

Jika yang sedang Kaia pikirkan adalah Asta, maka yang Asta pikirkan saat ini adalah ucapan Lanang malam itu.

"Lo. Suka sama Kaia. Sejak kapan?"

Asta tak bisa menjawab. Tetapi juga tidak bisa memungkiri bahwa berada bersama dengan gadis ini, hal-hal yang ia lalui jadi terasa lebih ringan dan menyenangkan. Tak hanya itu, keberadaan Kaia yang selalu mendukungnya dalam keadaan apapun juga menjadikan gadis itu sebagai salah satu orang yang penting bagi Asta. Asta tak bisa membayangkan jika tidak ada Kaia di sampingnya. Siapa yang akan memberinya support seperti yang Kaia berikan? Siapa yang akan mendukungnya seperti Kaia mendukungnya? Bukannya Asta tidak menganggap keberadaan keempat sahabatnya. Hanya saja, keberadaan Kaia memberinya warna tersendiri di hidupnya.

Warna yang lebih indah dari warna yang pernah Licia berikan padanya, yang tidak ingin Asta biarkan lepas dan menjauh darinya.

"Lo serius pengen lanjut ke Amerika?"

"Serius." Jawab Kaia tanpa mengalihkan matanya dari buku.

"Nggak mau lo pikirin lagi?"

"Nggak."

Tanpa sadar Asta menggigit bibirnya sendiri. Kemantapan Kaia membuatnya kesal. "Papa lo ntar gimana kalo mau fisioterapi?"

Masih enggan mengalihkan mata dari buku, Kaia berdecak, "Papa udah selese fisioterapi."

Kali ini Asta berdecak. Makin kesal rasanya. Terlebih gadis itu menjawab pertanyaan demi pertanyaannya tanpa menatapnya. "Kalo gue ngelarang lo kesana, gimana?"

ALASTAIRTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang