'don't touch my Queen'

4.7K 452 14
                                        

"Aren!"

Suara teriakan itu menggema hingga ke seluruh area garasi mansion.

Aren yang sejak tadi sedang membungkuk di depan mobil sport hitam miliknya langsung mendengus kasar. Tangannya berhenti bergerak dari mesin mobil, sementara wajahnya menunjukkan ekspresi kesal.

"Demi Tuhan..." gumamnya pelan. "Suara siapa lagi yang bisa memekakkan telinga seperti itu kalau bukan Araster?"

Ia menegakkan tubuh, lalu melirik ke arah pintu garasi dengan malas.

"Why, brat?" sahutnya setengah berteriak.

Araster muncul dari ambang pintu dengan wajah datar khasnya. Kedua tangannya berada di saku celana, tetapi sorot matanya terlihat tajam dan tidak sabaran.

"Jemput Queen. Sekarang."

Kedua alis Aren langsung bertaut.

"Biarkan Queen sekolah, Rast," balasnya santai sambil kembali menurunkan pandangan ke mesin mobil. "Dad juga tidak melarang."

Araster mendecih pelan.

"Ck. Kalau begitu biar aku sendiri yang menjemputnya."

Tanpa menunggu jawaban, pria itu langsung berbalik dan berjalan menuju mobil sport abu gelap yang terparkir di depan garasi.

Brak!

Pintu mobil ditutup keras.

Beberapa detik kemudian, suara mesin meraung memenuhi udara sebelum mobil itu melesat keluar dari pekarangan mansion dengan kecepatan tinggi.

Aren hanya bisa menggeleng pelan sambil mengembuskan napas panjang.

"Huft... aku tahu Queen berbohong," gumamnya lirih. "Tapi tidak bisakah mereka membiarkan dia punya teman di sekolah seperti remaja normal?"

Ia kembali memutar baut mesin mobil sambil memasang ekspresi dramatis.

"Malang sekali nasib adikku itu."

---

Jam istirahat di ABART High School biasanya selalu dipenuhi suara riuh para siswa.

Namun siang itu—

suasana mendadak berubah hening.

Beberapa siswa yang sedang berjalan di koridor berhenti.

Percakapan terputus begitu saja.

Bahkan suara tawa dari kantin perlahan menghilang.

Semua mata kini tertuju pada seorang pria yang baru saja keluar dari mobil sport mewah berwarna hitam di halaman sekolah.

Kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya, dipadukan dengan topi baseball berwarna senada. Penampilannya sederhana, tetapi justru memancarkan aura berbahaya yang sulit dijelaskan.

Tinggi.

Tampan.

Dan mengintimidasi.

Tatapan dinginnya membuat beberapa siswi refleks menahan napas.

"Siapa dia...?"

"Gila... tampan banget."

"Tapi serem."

Bisik-bisik mulai terdengar di berbagai sudut.

Sementara Araster berjalan memasuki area sekolah tanpa memedulikan siapa pun yang menatapnya.

---

"Apa kau tidak mengerti ucapanku, hah?!"

Suara Olivia menggema keras di koridor belakang sekolah.

Bratva's MafiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang