'tricked'

1.7K 189 21
                                        

"Dimana Jake?"

Cristop membalikkan tubuh dan mendapati Bratva berjalan memasuki ruang penyimpanan senjata dengan sebelah tangan berada didalam saku celana yang ia kenakan dan sebelahnya lagi memegang segelas wishky.

"Saya tidak melihat Jake sejak semalam Tuan,ponselnya juga tidak bisa dihubungi"

"Apa terjadi sesuatu?"

Pria itu menggeleng sembari berjalan kearah Bratva yang kini duduk disofa yang terdapat dipojok ruangan,"Jake akhir-akhir ini tampak gelisah,mungkin sedang ada masalah dengan kerabat atau..."

"Dia tidak memiliki siapapun selain seorang adik perempuan yang tinggal di Texas", potong Bratva cepat,pria itu mengusap dagunya pelan dengan tatapan lurus kedepan.

"Ahh... Jake sangat tertutup bahkan pada saya yang sudah mengenalnya dalam waktu yang cukup lama",ujar cristop sembari menganggukkan kepalanya maklum,lalu berjalan menuju rak dimana tersusun rapi segala jenis pistol dan senapan.

"Aku menemukannya saat melakukan perjalanan ke Texas", Bratva tersenyum tipis dengan tatapan menerawang,"Seorang bocah laki-laki yang mengambil makanan dari tempat sampah,masa kecil yang menyakitkan sama seperti apa yang kurasakan dulu",ujarnya dengan sorot menyakitkan.

"Suatu kehormatan bagi saya bisa mendengar ceritanya langsung dari Tuan".

Bratva melirik sekilas kearah cristop lalu tersenyum,"Rasanya aku seperti membesarkan 8 anak laki-laki yang tidak satupun dari mereka bisa kupahami".

"Mereka memiliki ambisi yang begitu besar, Tuan",ujar cristop sembari terkekeh,membuat Bratva menarik sedikit sudut bibirnya.

"Aku tidak ingin mereka hidup dengan rasa dendam terlebih dihantui rasa bersalah yang begitu besar sepertiku", Bratva mengusap wajahnya sembari menghela nafas perlahan,"Aku ingin mereka hidup normal seperti orang-orang pada umumnya,menjalin hubungan dan hidup bahagia bersama orang yang mereka cintai tanpa adanya bahaya yang mengintai", lanjutnya lalu memejamkan mata dengan kepala bersandar pada sandaran sofa yang ia duduki.

Drtttt....
Drrtttt....

"Tuan"

Cristop berjalan mendekati bartva lalu menyerahkan ponsel miliknya yang menampilkan deretan nomer baru.

"Halo?"

Hening,tidak ada suara apapun padahal telfon masih dalam keadaan tersambung,membuat Bratva mengerutkan alisnya bingung namun tidak berniat memutuskan sambungan telfon.

"Ekhm", suara deheman dari sebrang telfon yang terdengar familiar.

"Who?"

"Apa kau melupakan suaraku?", Sahut orang disebrang telfon dengan kekehan.

Cristop menatap kearah bossnya dengan sorot penasaran,karna ini pertama kalinya seseorang menelfon dan meminta untuk berbicara dengan Bratva secara langsung bukan Massimo.

"Aku benci basa-basi,langsung katakan apa maumu?"

Orang disebrang telfon lagi-lagi terkekeh,sedetik kemudian terdengar suara decihan yang membuat Bratva menyipitkan sebelah matanya,"Aku... Menginginkan semua yang kau miliki".

"Cihh", Bratva berdecih dengan tawa mengejek,"Aku tidak suka berbagi apapun pada siapapun",ujarnya dengan nada rendah namun penuh penekanan.

"Tapi kau harus membayar apa yang sudah kau perbuatan Vicenzo..."

Bratva menjauhkan ponsel dari telinganya,memperhatikan dengan seksama nomer yang tertera dilayar pipih itu kemudian melirik kearah cristop yang berdiri disisi kirinya,"Lacak",ucapnya tanpa mengeluarkan suara,yang langsung diangguki cristop.

Bratva's MafiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang