'blast'

4.2K 433 11
                                        

"Heroin pesananmu sudah dalam perjalanan."

Bratva menyesap kopi hitam di tangannya sebelum menyandarkan tubuh dengan santai pada kursi pesawat jet pribadi yang membawanya menuju Meksiko. Lampu kabin yang redup membuat wajahnya terlihat semakin dingin dan sulit ditebak.

"Sure. Senang bekerja sama denganmu."

Nada suaranya tenang, nyaris terdengar ramah.

Namun siapa pun yang mengenalnya tahu, pria itu tetap mampu terdengar mengancam bahkan saat berbicara santai.

Setelah panggilan berakhir, Bratva meletakkan ponselnya di atas meja kecil di samping kursi.

"Maaf, Tuan."

Bratva melirik sekilas ke arah pria berpakaian hitam yang berdiri tidak jauh darinya.

"Hm?"

"Kolombia meminta suplai lebih banyak dari biasanya," ujar pria itu hati-hati. "Dan Been ingin bertemu langsung dengan Anda."

Bratva memijat pelipisnya pelan sambil mengembuskan napas pendek.

"Apa selama ini kau pernah melihatku bertemu langsung dengannya?"

Pria itu langsung menunduk.

"Tidak, Tuan."

"Lalu kenapa dia mulai merasa cukup penting untuk meminta pertemuan?"

Nada suara Bratva tetap datar, tetapi cukup membuat suasana kabin berubah menekan.

"Saya akan menyampaikan penolakan itu kembali pada anak buahnya, Tuan."

"Bagus."

Bratva kembali menatap keluar jendela pesawat. Hamparan langit malam terlihat gelap dan tenang, sangat bertolak belakang dengan bisnis berdarah yang ia jalankan selama bertahun-tahun.

---

"Semprotkan secara merata."

Araster berdiri dengan kedua tangan di saku celana sambil memperhatikan beberapa pria berpakaian hitam yang sibuk menyemprotkan cairan mudah terbakar ke area sekitar gedung sekolah.

Malam itu, kawasan ABART High School terlihat sunyi.

Tidak ada siswa.

Tidak ada guru.

Hanya suara langkah kaki dan percikan cairan yang membasahi tembok, taman, hingga sisi belakang gedung utama.

Ketujuh putra Bratva berada di sana.

Menjalankan permainan mereka sendiri.

Sementara itu, Ailen dibiarkan tetap berada di mansion dengan pengawalan super ketat dari orang-orang kepercayaan keluarga Cassanno.

"Kita mulai tepat pukul dua belas," ujar Axelandra sambil melirik jam tangannya. "Jangan terburu-buru."

Araster mengangguk kecil.

"Lewat sini, baby."

Suara Aric terdengar sangat lembut saat ia berjalan mendekat sambil membawa seseorang.

Olivia.

Gadis itu tampak pucat dengan kedua tangan gemetar. Wajahnya berantakan akibat tangis yang sejak tadi tidak berhenti.

Azka yang melihatnya langsung menatap tajam.

"Kau membawanya ke sini?"

Nada bicaranya terdengar dingin dan penuh kebencian.

Aric hanya tersenyum tipis sebelum mendorong Olivia agar berdiri tepat di depan mereka.

"Katakan pada ayahmu," ujarnya pelan sambil mengusap pipi Olivia lembut, "bahwa dia telah melakukan kesalahan besar karena berani menyentuh aset milik BRATVA'S FAMS."

Bratva's MafiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang