'it's me'

3.5K 355 9
                                        

Sudah hampir seharian penuh Araster mengurung diri di dalam ruang pribadinya-ruangan yang seluruh anggota keluarga Cassanno sebut sebagai 'Genius Room'.

Ruangan itu dipenuhi layar monitor berukuran besar, kabel-kabel yang saling terhubung, serta perangkat canggih yang bahkan sebagian besar orang tidak akan mengerti cara mengoperasikannya. Cahaya dari layar monitor memantul samar pada wajah tampan Araster yang kini terlihat jauh dari kata tenang.

Matanya memerah. Rahangnya mengeras.

Beberapa botol whisky kosong berserakan di atas meja kaca di samping keyboard miliknya.

Sesekali pria itu mengusap wajahnya kasar, lalu kembali mengetik cepat tanpa henti. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard, sementara puluhan kode, digit angka, dan barisan data terus bermunculan di layar monitor.

"Mati kau, bajingan..."

Desisan rendah itu keluar begitu saja dari bibirnya.

Tatapannya berubah tajam saat ia menekan tombol *enter*.

Dalam hitungan detik, seluruh sistem keamanan milik perusahaan Gernio mulai terbuka satu per satu. Data rahasia, transaksi ilegal, hingga jalur distribusi senjata bergerak cepat memenuhi layar.

Senyuman tipis muncul di sudut bibir Araster. Senyuman yang lebih menyerupai ancaman.

Tok! Tok!

Pintu ruangannya diketuk pelan.

Tanpa menunggu jawaban, Azka masuk sambil membawa segelas Vodka di tangannya.

Penampilan pria itu berantakan. Rambutnya acak-acakan, kemeja hitam yang dikenakannya kusut, dan buku-buku jarinya tampak memar dengan sedikit luka sobek di sana-sini.

Aroma asap rokok bercampur darah samar tercium dari tubuhnya. Azka berjalan mendekat sebelum menyandarkan tubuh di sisi meja kerja Araster.

"Apa kau sudah mengatasinya?"

Araster tidak langsung menjawab. Ia hanya berdeham pelan tanpa mengalihkan pandangan dari monitor di depannya.

Beberapa detik kemudian, sudut bibirnya terangkat tipis. "Semuanya sudah selesai."

Azka menatap layar monitor itu beberapa saat, lalu terkekeh rendah.

"Kasihan sekali hidup Gernio."

"Belum," sahut Araster datar. "Ini baru permulaan."

---

Sementara itu, di tempat lain.

Axelandra dan Valeenz berdiri santai di depan sebuah rumah besar bergaya Eropa modern. Lampu-lampu taman masih menyala terang meski hari sudah larut malam.

Kedua pria itu tampak terlalu santai untuk seseorang yang datang membawa kehancuran.

Axel mengisap rokoknya perlahan, lalu menghembuskan asap ke udara malam.

Sedangkan Valeenz berdiri dengan kedua tangan di saku celana, menatap rumah itu tanpa ekspresi.

Sudah hampir sepuluh menit mereka menekan bel rumah tanpa henti.

Klik.

Pintu akhirnya terbuka.

Seorang gadis berambut sebahu muncul dengan piyama kotak-kotak yang membungkus tubuh kurusnya. Olivia.

Wajah gadis itu langsung pucat saat melihat siapa yang berdiri di depan rumahnya.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Hanya tatapan penuh keterkejutan dari Olivia dan ekspresi santai dari dua pria di hadapannya.

Bratva's MafiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang