'one of them'

1.3K 163 17
                                        

"Bagaimana keadaan adikku?"

Andeo membalikkan tubuhnya,mendapati Araster berjalan melewati pintu masuk dengan kedua tangan berada dibalik saku celana yang pria itu kenakan.

"Semalam dia mengatakan bahwa kepalanya sakit,dan memohon agar aku memberinya obat",jawabnya sembari berjalan mendekati Araster,kemudian keduanya duduk disofa yang berhadapan langsung dengan pemandangan Meksiko city pada sore hari.

"Kau memberikan obat itu padanya?"

Andeo menggeleng yang membuat araster menghela nafas berat,menggaruk ujung dahinya beberapa kali sebelum berdiri dan melangkah kearah jendela kaca yang terbentang mengelilingi seisi ruangan pribadi milik Andeo,"Dari mana rasa sakit itu berasal?",ujarnya tanpa membalikkan tubuh.

"Delusi,rasa sakit itu tidak nyata"

"Bagaimana bisa?",tanya Araster dengan dahi berkerut.

"Membenturkan kepala ketembok,menjambak rambut dengan sekuat tenaga. Apa menurutmu itu semua bisa menyembuhkan rasa sakit?", Andeo tersenyum tipis, menyilangkan kedua tangannya didepan dada sebelum kembali berbicara,"Tentu saja tidak,bukan? Justru rasa sakit dikepalamu akan bertambah berkali-kali lipat jika kau melakukannya".

"Ailen melakukan itu semua,dan sakit dikepalanya menghilang?",ujar Araster seraya membalikkan tubuhnya menghadap kearah Andeo,membuat pria itu menganggukkan kepala beberapa kali.

"Bisa aku bertemu dengan Margaret? Kurasa dia yang membangun sisi lain dari adikmu,dimulai dari obat yang menyebabkan dia berhalusinasi,mengalami gangguan delusi,dan berakhir menyakiti dirinya sendiri",ujar Andeo seraya menyandarkannya tubuhnya pada sandaran sofa yang ia duduki.

Araster melangkahkan kakinya kearah sofa,dan duduk tepat dihadapan Andeo,"Aku akan segera membawa wanita itu padamu", ucapnya yakin.

"Terlambat"

Sontak kedua pria itu menoleh kearah pintu masuk,dimana Axel berjalan dengan raut datar sembari membawa selembar foto ditangan kanannya. Setelah berdiri didepan keduanya,ia melemparkan foto itu keatas meja,"Seseorang bergerak lebih cepat dari kita",ujarnya seraya menghela nafas berat.

Araster mengambil foto dihadapannya,dan seketika rahangnya mengeras setelah melihat seorang wanita yang cukup ia kenali terbaring dilantai dengan darah yang mengalir disekitar tubuhnya.

"Darimana kau mendapatkan foto ini?"

"Aku membayar beberapa orang untuk mengintai rumah Margaret,tapi pagi ini mereka menghubungiku dan mengatakan bahwa wanita itu tidak keluar rumah sejak semalam,bahkan lampu rumahnya tidak menyala sepanjang malam. Aku langsung pergi kesana karna berpikir bahwa wanita itu kabur,tapi yang kudapatkan justru mayat dengan darah yang sudah membeku",jelasnya seraya mendudukkan bokongnya diatas sofa,disamping Andeo.

Araster menyipitkan sebalah matanya dengan kedua tangan menyilang didepan dada,sementara Andeo tidak mengucapkan sepatah katapun sejak Axel datang,pria itu hanya memperhatikan gerak-gerik kedua pria dihadapannya dengan sangat intens.

"Semalam hanya ada kita bertujuh dan Andeo,jelas tidak ada siapapun lagi yang bisa mendengar percakapan kita mengenai Queen maupun Margaret", Araster menegakkan tubuhnya,meletakkan kedua sikut diatas paha dengan jari-jari saling bertaut menopang dagu,"Menurutmu,siapa yang paling berpotensi melakukan semua ini?",tanyanya pada Andeo,membuat pria itu berdehem.

"Aku akan membantu kalian menemukan jawabannya lewat Ailen",ucapnya lalu berdiri,memasukkan kedua tangan kedalam saku celana yang ia kenakan sebelum melangkah pergi.

Sepeninggalan Andeo,keduanya hanya diam dengan pandangan lurus kedepan. Hingga akhirnya, Araster mengalihkan atensinya pada Axel dan matanya tidak sengaja menangkap sesuatu dipakaian yang pria itu kenakan.

Bratva's MafiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang