Altalaric,pria itu kini berada disebuah bar dengan bebarapa gadis yang bergelanyut manja disisi kiri dan kanannya,sementara Aric hanya memandang lurus kedepan tanpa melakukan apapun,persis sebuah patung.
"Aku ingin memakai kalian semua", ujarnya yang langsung membuat ketiga gadis itu tersenyum senang.
Aric menghela nafasnya gusar,dia tidak bisa memikirkan apapun sekarang selain ibunya,wanita cantik dan penyayang yang selalu berhasil membuat seorang Altalaric luluh hanya dengan senyum hangatnya,salah satu dari dua wanita yang paling dirinya cintai.
"Buat aku melupakan rasa sakit ini"
***
Azka berjalan memasuki sebuah gang yang terdapat di pelosok Meksiko. Gang itu tampak kumuh tanpa penerangan sedikitpun,"Aku tidak bisa untuk tidak menghabisimu",sinisnya lalu mengepalkan tangan erat.
Kini kakinya berhenti tepat didepan sebuah gudang tua yang tampak tidak terawat karena banyaknya sampah dan rumput liar yang tumbuh merambat pada tembok gedung. Hanya dengan sekali tendangan, pintu kayu didepannya terbuka dan menampakkan beberapa orang pria tengah menghisap zat-zat terlarang.
Azka berjalan dengan sebelah tangan berada didalam saku celana jeans yang ia kenakan,keempat pria dihadapannya kini berdiri dengan wajah mengejek seolah yang kini berada didepan mereka adalah bocah ingusan.
"Apa yang kau lakukan disini hah? Oh... Kau ingin cari mati?"
Azka berdecih yang membuat keempat pria itu menatap tajam kearahnya,"Kau sudah memilih masuk kedalam kandang singa,jadi kau tidak bisa kabur begitu saja",ucap salah satu pria yang tampak lebih kurus dari tiga pria lainnya.
Azka tersenyum miring lalu melangkah lebih dekat,"Aku tidak berniat untuk kabur sedikitpun,justru kedatanganku kesini untuk membasmi makhluk-makhluk tidak berguna seperti kalian".
"Whaa,aku sedikit tersinggung karna ucapanmu",ujar pria yang bertubuh paling kekar,lalu berjalan mendekati Azka yang tidak menampakkan raut gentar sedikitpun.
"Akan kuhabisi kau", teriak pria itu lalu berlari kearah Azka,berniat memukulnya sebelum...
Dor...
"Apa kau gila?!!!", Teriak salah satu pria yang kini membulatkan matanya tidak percaya,sementara dua pria lainnya melangkah mundur.
"Sudah kukatakan bukan? Aku datang untuk membasmi kalian semua",Azka berbicara santai sembari memutar-mutar pistol ditangannya.
"Jangan coba bermain-main denganku sialan!", Sentak pria itu lalu berjalan mendekati Azka sembari menenteng sebuah balok besar ditangannya.
Belum sempat balok itu mengenai tubuhnya,pria itu sudah terkapar tidak berdaya dengan darah yang mengucur dari kepala. Sementara Azka hanya menatap malas kearah dua pria yang kini tampak ketakutan dengan apa yang baru saja mereka lihat, Azka berjalan dengan santai mendekati kedua pria itu,"Aku sangat ingin menghabisi kalian saat ini juga,tapi bukankah akan jauh lebih baik jika aku mendengar sedikit pendapat kalian?"
Azka memilih duduk disofa tua yang berhadapan dengan kedua pria yang tersisa, memutar-mutar pistol ditangannya seolah tidak terjadi apapun,"Aku ingin bertanya,apa kalian memiliki keluarga?",sontak kedua pria itu mengangguk dengan tatapan waspada.
"Apa yang akan kalian lakukan jika salah satu dari mereka dibunuh?"
Tidak ada sahutan apapun yang membuat prince Bratva itu berdecak malas,"Ahh,apa kalian takut dengan ini?", Azka mengangkat pistol ditangannya lalu meletakkan benda mematikan itu ke atas meja yang berada didepanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bratva's Mafia
AksiyonTidak menyediakan spoiler. /Prince's and Princess BRATVA'S/
