'Say good bye'

3.5K 381 13
                                        

""Ahh... jadi ini semua tentang balas dendam?"

Suara berat Bratva terdengar rendah di tengah sunyinya ruangan. Pria itu menyisir rambutnya ke belakang menggunakan jemari panjangnya sebelum kembali menenggak Vodka dari gelas kristal di tangannya. Entah sudah gelas keberapa malam ini.

Jam dinding menunjukkan pukul 01.53 dini hari.

Sudah hampir lima jam sejak terakhir kali mobil yang membawa Ailen terlacak.

Ruangan kerja pribadi milik Bratva terasa begitu dingin dan menyesakkan. Asap rokok menggantung di udara, sementara layar monitor besar di hadapan mereka masih menampilkan titik lokasi terakhir mobil Ailen-Death Valley.

Gurun sialan itu.

Tempat yang bahkan terdengar mengerikan hanya dari namanya.

Bratva menyandarkan tubuhnya perlahan pada kursi kulit hitam di belakang meja kerjanya. Tatapannya lurus menembus layar monitor, tetapi pikirannya jelas berada jauh di tempat lain.

"Apa yang mereka lakukan di sana...?" gumamnya pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Jake yang berdiri tidak jauh darinya menghela napas berat sebelum kembali mengetik sesuatu di iPad yang sedari tadi tidak lepas dari tangannya.

"Saya harap mereka tidak melakukan sesuatu yang fatal, Tuan," ucapnya hati-hati.

Tidak ada jawaban.

Bratva hanya menatap kosong gelas Vodka di tangannya sebelum meneguk habis isinya dalam sekali minum.

Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, Jake melihat ketakutan samar di mata seorang Bratva Vicenzo Cassanno.

---

Di tempat lain.

Meksiko.

Udara malam terasa lembap dan kotor saat Arenzya berjalan santai memasuki sebuah gang sempit di bagian timur kota. Langkahnya terdengar pelan menghantam genangan air dan tanah becek.

Gang itu sunyi.

Terlalu sunyi.

Lampu-lampu jalan sebagian besar sudah mati. Hanya ada cahaya redup kekuningan dari beberapa bangunan tua yang berdiri rapuh di sisi kanan dan kiri gang.

Aren memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana, sementara tangan lainnya menggenggam botol whisky kosong.

Wajah tampannya tampak tenang.

Terlalu tenang.

Namun pria yang berjalan di belakangnya tahu betul-ketenangan Arenzya adalah pertanda buruk.

"Saya yakin tempatnya di sini, Tuan," ujar anak buahnya pelan. "Tapi sepertinya dia tidak tinggal sendirian."

Aren mengangguk kecil.

Tatapannya jatuh pada sebuah bangunan tua dua lantai yang dindingnya dipenuhi batu bata kusam dan retakan di sana-sini.

"Rumah yang menyedihkan," gumamnya pelan.

Tanpa basa-basi, Aren mengangkat kaki dan-

Brakk!

Pintu kayu tua itu terbuka hanya dengan satu tendangan keras.

Suara benturan menggema memenuhi rumah.

Aren melangkah masuk dengan santai sambil menyeringai tipis.

"Siapa kalian?!"

Seorang wanita setengah baya yang berdiri di ruang tengah sontak mundur ketakutan. Wajahnya pucat. Kedua tangannya gemetar hebat saat melihat dua pria asing menerobos masuk begitu saja.

Bratva's MafiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang