'she's mine'

4.1K 400 17
                                        

"Aku ingin melihat sepatu."

Ailen menyandarkan tubuhnya santai di sofa ruang VIP butik mewah itu. Kedua kakinya menyilang elegan sementara tatapannya menyapu seluruh ruangan dengan bosan.

"Ah, keluarkan semua koleksi terbaru di sini."

Pelayan wanita yang berdiri di hadapannya langsung mengangguk hormat.

"Baik, Nona."

Wanita itu segera pergi bersama beberapa staf lain, meninggalkan Ailen di ruang tunggu khusus pelanggan VVIP yang dipenuhi aroma parfum mahal dan interior bernuansa emas gading.

Jangan tanyakan di mana ketujuh saudaranya berada.

Karena terakhir kali Ailen melihat mereka, ketujuh pria itu berpencar begitu saja di area parkir dan menghilang entah ke mana.

"Permisi, Nona."

Salah satu bodyguard mendekat sambil sedikit menundukkan kepala.

"Setelah ini Tuan meminta kita menuju pelabuhan pribadi. Beliau ingin Nona melihat kapal pesiar yang sudah disiapkan."

Ailen mengangguk kecil.

"Hm... setelah ini aku ingin membeli beberapa tas dulu."

Bodyguard itu hanya tersenyum maklum.

Sudah hampir dua jam mereka mengikuti Ailen berbelanja tanpa henti, dan gadis itu masih tampak penuh semangat.

Tidak lama kemudian, para pelayan kembali datang sambil membawa beberapa kotak sepatu eksklusif.

"Permisi, Nona," ujar salah satu pelayan dengan senyum profesional. "Untuk koleksi pertama, kami memiliki Louis Vuitton Archlight Sneakers edisi terbaru."

Ia memperlihatkan sepatu itu dari berbagai sisi dengan hati-hati.

Ailen hanya mengangguk pelan.

"Pilihan kedua berasal dari brand Swear Regent Hi-Top Sneakers. Harganya sekitar enam puluh lima juta rupiah. Sepatu ini hanya tersedia dua pasang di dunia dan dibuat menggunakan croco skin-"

"Ah, ya, ya..."

Ailen mengibaskan tangan kecilnya malas.

"Aku ambil semuanya."

Pelayan itu sempat terdiam beberapa detik sebelum kembali tersenyum.

"Baik, Nona."

---

Di sisi lain pusat perbelanjaan-

Araster, Arenzya, dan Altalaric tengah berada di butik Gucci yang berada di lantai berbeda.

Beberapa bodyguard berdiri di belakang mereka sambil memegang belasan paper bag hasil belanja sejak satu jam terakhir.

Ketiga putra Cassanno itu duduk santai di sofa tengah butik, sementara para pelayan sibuk memperlihatkan berbagai koleksi terbaru yang mungkin menarik perhatian mereka.

"Apa menurutmu dompet ini bagus?"

Aric mengangkat dompet kulit hitam kecil ke arah Araster.

Pria itu hanya melirik sekilas sebelum mengangguk datar.

"Lumayan."

Sementara itu, Aren sedang sibuk mencoba sepatu demi sepatu.

"Aku mau yang ini," ujarnya sambil berdiri dan berjalan beberapa langkah di depan cermin besar.

"Oh, yang itu juga bagus."

Salah satu pelayan langsung mencatat cepat.

Beberapa menit kemudian, perhatian Aren kembali tertarik pada sepasang sneakers lain di etalase.

Bratva's MafiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang