Yoona,wanita cantik itu duduk didepan kaca pembatas balkon dengan pandangan lurus ke depan. Kedua tangannya memeluk erat sebuah selimut dengan motif kupu-kupu berwarna baby blue dan sepasang sepatu bayi yang ia letakkan diatas pangkuannya.
Sudah 24 jam sejak putri nya dinyatakan meninggal dunia,namun Yoona masih enggan menemui gadis itu lagi,bahkan sudah tidak terhitung berapa kali pelayan memintanya untuk bertemu dengan Ailen sebelum proses kremasi dilaksanakan.
"Tuhan,dosa apa yang ku perbuat hingga kau setega ini mengambil paksa seorang putri dari ibunya..." Yoona menghela nafas dalam,memejamkan matanya beberapa saat sebelum kembali berucap lirih,"Apa yang harus mom lakukan sekarang,honey? Tolong beritahu apa yang harus mom lakukan setelah kau pergi?!".
Lagi-lagi Yoona meneteskan air mata,entah untuk yang keberapa kalinya dalam sehari ini ia menangis. Bahkan kepalanya terasa berdenyut karna terlalu banyak menangis.
"Bahkan bagi mom,kehilangan Oma tidak sesakit saat melihatmu terbaring tak berdaya-" Yoona kehabisan kata,lidahnya kelu hingga untuk mengeluarkan suara pun rasanya ia sudah tak sanggup. Jantungnya berdetak ribuan kali lebih cepat dari biasanya,hingga tanpa sadar Yoona memukul dadanya berulang kali seraya terisak.
"Akhhh- mom mohon,honey. Kembalilah. Atau setidaknya peluk mom selama sisa waktu yang kau punya. " Ucapnya lirih disela isakan pilu,membuat pria yang kini berdiri dibelakangnya memejamkan mata.
"Na"
Tidak ada respon apapun dari Yoona,wanita itu masih terisak seraya memukuli dadanya,sesekali ia menciumi selimut yang sedari tadi berada didalam pelukannya.
Bratva melangkahkan kaki jenjangnya, kemudian berjongkok dihadapan Yoona. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menatap wajah wanita-nya yang kini sudah dibanjiri air mata.
"Na,kau tidak ingin melihat putri kita untuk yang terakhir kalinya?" Ujar Bratva lembut,seraya mengusap paha istrinya.
Semua orang hancur dan terpukul atas kepergian Ailen, begitupun Bratva yang telah menaruh seluruh hatinya pada gadis mungil itu. Demi Tuhan,Bratva lebih rela seumur hidupnya membusuk dipenjara bawah tanah,daripada kehilangan putrinya dengan cara mengenaskan seperti ini.
Sentuhan pada punggung tangannya berhasil membuyarkan lamunan Bratva,ia mendongakkan wajah dan mendapati Yoona sudah berhenti menangis,dan kini wanita cantik itu menatap kedua maniknya.
"Vin,bisa kau lakukan sesuatu untukku?"
"Tentu,apapun."
Yoona menunduk beberapa saat,menghela nafas berat sebelum kembali menatap Bratva. "Aku ingin bisa terus melihat dan menyentuh princess kita."
Bratva terpaku atas apa yang Yoona ucapkan,tidak pernah terlintas dikepalanya bahwa wanita ini akan meminta hal seperti itu pada dirinya. "Na,kau tidak boleh melakukannya pada putri kita. Kau tau dengan pasti,bahwa kita harus mengirimnya ketempat peristirahatan terindah."
Yoona menggeleng seiring dengan airmatanya yang kembali berjatuhan,"Vin, kumohon. Aku ingin bersamanya dalam waktu yang lama. Dia putriku vin,aku menyayangi nya dengan sangat,bahkan lebih dari diriku sendiri. Kau pikir aku bisa merelakan kepergiannya begitu saja? Bahkan aku lebih rela kehilanganmu,dibanding harus kehilangan putri kita."
Entah Yoona menyadari ucapannya atau tidak,jelasnya apa yang ia katakan berhasil membuat sebagian hati Bratva berdenyut nyeri.
"Maafkan aku,Na. Untuk kali ini,aku tidak bisa menyanggupi permintaan mu."
***
"Val"
Merasa namanya dipanggil,Valeenz yang tengah berdiri di balkon kamarnya langsung membalikkan badan. Mendapati Araster melangkah kearahnya seraya menghela nafas berulang kali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bratva's Mafia
ActionTidak menyediakan spoiler. /Prince's and Princess BRATVA'S/
