'Jealous'

3.5K 356 18
                                        

Ailen terbangun ketika merasakan kasurnya berguncang pelan, seolah ada seseorang yang baru saja menjatuhkan tubuh di sampingnya. Gadis itu menggeliat kecil sambil menarik selimut hingga ke dagu. Kelopak matanya bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka sedikit demi sedikit, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang menembus tirai kamar.

"Engghh..."

"Hai."

"Huwaaa!"

Ailen sontak menjerit kaget begitu mendapati wajah Aric berada hanya beberapa senti dari wajahnya. Pria itu bahkan menatapnya tanpa berkedip, lengkap dengan senyum jahil yang membuat Ailen refleks mendorong dahinya.

"Ck. Apa wajahku semenyeramkan itu?" gerutu Aric pelan.

Tanpa memberi kesempatan Ailen menjawab, pria itu langsung menarik tubuh gadis tersebut ke dalam pelukannya. Wajahnya dibenamkan di ceruk leher Ailen, membuat napas hangatnya menyapu kulit putih gadis itu.

"Ishh... aku mau mandi," keluh Ailen sambil berusaha melepaskan diri.

Aric justru menggeleng kecil. Pelukannya semakin erat, seolah takut gadis itu menghilang lagi begitu saja.

"Aku merindukanmu."

Suara rendah itu terdengar begitu tulus hingga membuat Ailen terdiam sesaat. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum kecil. Setelah semua kekacauan yang terjadi beberapa hari terakhir, kalimat sederhana itu terasa jauh lebih hangat dari biasanya.

Pintu kamar kembali terbuka.

Aren masuk dengan langkah santai, rambutnya masih sedikit basah seolah baru selesai mandi. Tatapannya langsung jatuh pada Aric yang tidur setengah memeluk Ailen di atas ranjang.

"Dasar manja," sindirnya sambil menggeleng pelan.

Tanpa rasa bersalah, Aren ikut menjatuhkan tubuhnya di sisi lain kasur, tepat di samping Ailen hingga ranjang besar itu kembali berguncang.

"Apa hobimu memang berkeliaran tanpa pakaian?" tanya Ailen datar saat melihat Aren hanya mengenakan celana training hitam.

Aren terkekeh pelan. Dengan santainya ia memeluk Ailen dari samping, dagunya bertumpu di pundak gadis itu.

"Banyak seni yang harus kuperlihatkan," bisiknya menggoda.

Ailen memutar bola matanya malas.

"Seni yang terlihat kotor di mataku."

"Queen..." Aren menyipitkan mata pura-pura terluka.

Detik berikutnya, pria itu justru menggigit pelan telinga Ailen.

"Aakkk!"

Ailen memekik kaget sambil menutup telinganya.

Plak!

Tanpa membuka mata, Aric langsung menampar lengan Aren cukup keras.

"Jangan ganggu Queen," gerutunya dengan suara serak khas bangun tidur.

Aren mendengus kesal.

"Apa kau tidak punya kesadaran diri? Kau juga mengganggunya sejak tadi!"

"Beda."

"Di mana bedanya?"

"Karena aku tampan."

"Dasar tidak tahu malu."

Ailen menghela napas panjang untuk kesekian kalinya. Kepalanya benar-benar pusing menghadapi dua saudara yang kelakuannya sama-sama menyebalkan.

"Bisa kalian berdua keluar dari kamarku?" katanya sambil mendorong kepala Aren menjauh. "Aku harus mandi. Satu jam lagi kita terbang ke Meksiko."

Bratva's MafiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang