deg!
deg!
deg!
hening,diruangan bernuansa putih itu tidak terdengar suara apapun selain detak jantung yang kian terdengar memudar,seolah menjauh. Seiring dengan kedua mata sayu yang perlahan terbuka,menampilkan manik coklat hazel yang bergerak gelisah,seolah sedang mencari sesuatu yang hilang.
Tangan kekar yang kini tampak pucat perlahan menampakkan pergerakan kecil,begitupun dengan helaan nafas yang keluar dari bibir tipis nan pucat yang kini perlahan terbuka.
ceklek!
"Senang mendengar kabar bahwa kau sudah siuman." Ucap pria tampan yang baru saja menutup pintu setelah ia berjalan masuk.
Aziel,pria itu hanya bisa menampilkan raut datar saat mendapati Araster berjalan menghampirinya,yang tengah berbaring diatas ranjang rumah sakit dengan selang infus masih menempel ditangannya.
"Dimana istriku?"
Araster sempat berdehem,sebelum mendudukkan bokongnya disofa yang terdapat diruang rawat yang Aziel tempati. "Kau yakin ingin tau,dimana istrimu berada?"
tanyanya yang sontak membuat pria dihadapannya mengerutkan alis.
"Aku ingin menemuinya-"
"Kau terlalu lemah untuk menjadi suami adikku. Chh,Apa kau sudah cukup puas tertidur selama 3 minggu? Kau melewatkan banyak hal,hanya untuk memulihkan fisikmu yang seperti bubur bayi,lembek." Sarkas Araster tajam,menghujani Aziel dengan tatapan membunuhnya. Sementara yang ditatap lagi-lagi mengernyit.
"Aku tidak perduli dengan apapun yang kau katakan. Aku hanya ingin menemui istriku,bisa tolong bawa dia kemari?"
"Chhh." Araster kembali berdecih,berdiri dari duduknya dengan kedua tangan ia sembunyikan dibalik saku celana kain yang kini ia kenakan. "Matilah,maka kau akan bertemu dengannya disurga." ujarnya,kemudian pergi meninggalkam Aziel yang kini termangu,berusaha mencerna ucapan Araster.
Tidak berselang lama dari kepergian kaka iparnya itu,Aziel kembali dikejutkan dengan kedatangan Yoona yang tampak kacau. Berjalan menghampirinya seraya memeluk sebuah selimut berwarna baby blue,wanita itu hanya mengenakan dress hitam polos sebatas lutut,dengan rambut panjang yang ia biarkan tergerai.
"Mom-"
Ucapan aziel terpotong saat Yoona dengan tiba-tiba memeluk tubuhnya erat,seraya terisak.
"Kita kehilangannya." Ucapnya lirih disela isakan.
Tunggu,apa yang terjadi?
Aziel melepas pelukan Yoona,meremas kedua bahu wanita itu dengan tatapan bertanya.
"Mom,ada apa? Kehilangan apa yang mom maksud?! Kenapa mom menangis dan,dan bagaimana bisa mom tampak kacau seperti ini?" tanyanya bertubi,seraya menggoncang bahu Yoona pelan.
"Princess- Kita kehilangan princess."
Deg!
Aziel termangu,menatap kedua manik teduh didepannya yang tak henti mengeluarkan cairan bening. Tatapan wanita ini begitu hancur dan menyakitkan,persis seperti tatapan yang pernah ibunya berikan setelah mendengar kabar bahwa ayahnya meninggal dunia.
Sepersekian detik,pria itu meremas rambutnya dengan sekuat tenaga. Kepalanya serasa berputar,dipenuhi rentetan kejadian dimana ia pertama melihat wajah Ailen,dimana ia untuk pertama kalinya merasakan sentuhan gadis itu yang begitu lembut dan menghanyutkan,dimana ia mulai jatuh dan semakin jatuh pada pesona gadis cantik itu,dan suara lembutnya,tatapan teduhnya semuanya terus berputar didalam kepala Aziel,seolah seperti kaset rusak yang tidak bisa dihentikan,kenangan itu semakin lama semakin tidak beraturan,berputar menampilkan deretan kenangannya dengan Ailen,wanitanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bratva's Mafia
ActionTidak menyediakan spoiler. /Prince's and Princess BRATVA'S/
