Dor
Dor
Baru saja Aren hendak menarik pelatuk dipistol yang ia genggam,namun dengan tiba-tiba satu tembakan berhasil mengenai targetnya,membuat ia reflek membalikkan tubuh dan mendapati Araster berdiri dengan wajah datar,pria itu berdiri sekitar satu meter dibelakang aren sembari memutar-mutar sebuah pistol ditangannya.
"Apa kau harus berlatih sepagi ini?"
"Jangan berbasa-basi,katakan saja tujuan sebenarnya kau menemuiku"
Araster terkekeh,pandangannya tidak teralihkan dari adiknya yang kini kembali berlatih menembak dengan sangat serius,seolah patung-patung didepannya itu adalah manusia sungguhan.
"Kupikir kalian akan saling membunuh setelah tau bahwa Araster yang membunuh Olivia"
Axel datang dengan sekotak susu vanilla ditangannya,pria itu masih mengenakan pakaian olahraga karna ia baru saja kembali dari gym bersama Aric dan Azka.
"Sebelum sempat membunuhku,aku yang akan membunuhnya lebih dulu",ujar Araster santai,namun bisa Axel pastikan apa yang pria ini bicarakan memiliki 99% kemungkinan untuk menjadi kenyataan.
"Chhh",Aren tampak berdecih,ia berjalan mendekati dua pria yang berdiri tidak jauh didepannya,"Sepertinya kau memang benar-benar ingin membunuhku,lakukan saja selagi kau merasa sanggup untuk melakukannya".
Araster tersenyum tipis mendengar ucapan pria yang sialnya adalah adik kandungnya,tangan kekarnya terangkat untuk mengarahkan pistol yang sedari tadi ia pegang sejajar dengan kepala Aren,membuat pria itu lagi-lagi berdecih.
"Apa kau serius ingin melakukannya?"
Axel menatap kedua saudaranya secara bergantian,tidak ada sorot takut,gentar,atau amarah sama sekali dari keduanya yang kini tampak memasang wajah datar seolah tidak terjadi apapun. Mereka berdua seperti sedang bercanda dimatanya,namun tidak ada yang bisa menyangkal bahwa candaan yang dilontarkan oleh ketujuh prince's Bratva bukanlah candaan yang bisa dianggap remeh.
"Tarik pelatuknya Brat!"
Dor
"What the fuck?!", Axel berteriak dengan kedua mata membulat,sementara Araster hanya mengedikkan bahu acuh sembari menatap malas kearah pria yang kini berdiri kaku didepannya.
"Tidak ada yang tidak mungkin bagiku,jika aku ingin... Maka kau mati"
Setelah menyelesaikan ucapannya, Araster langsung memutar tubuhnya dan melangkah memasuki kawasan mansion,meninggalkan Aren yang kini berdiri kaku dengan wajah syok karna baru saja sebuah peluru melewati telinganya,yang bisa ia pastikan jika sampai benda mungil itu mengenai daun telinganya,mungkin sekarang Aren sudah kehilangan sebagian wajahnya.
"Dia tidak pernah main-main Ren,lagipula harusnya kau berterimakasih pada Arast karna jika dia tidak membunuh gadis itu mungkin sekarang kau sedang berjalan menuju kehancuran",ujar Axel yang membuat Aren tersadar dari lamunannya.
"Aku yakin kau tau siapa yang berada dibalik gadis itu,berhenti berpura-pura seolah kau tidak tau apapun Axe!"
Axel menyedot habis susu vanilla ditangannya sebelum bersuara,"Jake".
Sontak Aren membulatkan matanya dengan sempurna,berusaha mencerna apa yang baru saja pria itu katakan,"Yang benar saja?! Orang itu Jake? Untuk apa dia melakukannya?"
"Jake hanya menjalankan perintah", Axel melempar kotak susu ditangannya dan tepat mendarat kedalam tong sampah,lalu menatap saudaranya dengan sebelah mata menyipit kemudian tersenyum,"Tidak ada yang benar-benar berkhianat dirumah ini,jadi berhati-hatilah sebelum menyimpulkan sesuatu".
"Apa sebanyak itu yang tidak kuketahui?,Aren tertawa setelah mendengar ucapan Axel,tawa yang terdengar sumbang,ia masih tidak habis pikir dengan apa yang baru saja saudaranya katakan,apa ia benar-benar tidak mengetahui apapun yang terjadi dirumah ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
Bratva's Mafia
ActionTidak menyediakan spoiler. /Prince's and Princess BRATVA'S/
