Spanyol, 16.25 PM.
"Hola, buenas tardes."
Suara berat itu menggema pelan di dalam gedung tua bercat kusam yang dipenuhi aroma rokok, alkohol, dan bubuk mesiu. Percakapan yang sebelumnya terdengar riuh langsung terhenti.
Semua kepala menoleh bersamaan.
Seorang pria berjalan santai memasuki ruangan dengan kedua tangan berada di balik saku celana kain berwarna biru tua yang dikenakannya. Kacamata hitam bertengger rapi di hidung mancungnya, sementara langkahnya terdengar tenang-terlalu tenang untuk seseorang yang datang sendirian ke markas kartel.
Tatapan puluhan pria bersenjata langsung tertuju padanya.
"Mau apa kau kemari?" tanya salah satu pria bertubuh besar sambil berkacak pinggang.
Pria asing itu tidak langsung menjawab. Ia justru mengamati isi gedung dengan santai, seolah sedang menilai interior sebuah restoran, bukan sarang penjahat.
"Apa kau sengaja melemparkan dirimu sendiri ke kandang buaya?"
Kali ini suara lain terdengar.
Seorang pria tua bertubuh pendek dengan perut buncit melangkah keluar dari barisan anak buahnya. Wajahnya dipenuhi garis usia, tetapi sorot matanya masih menyimpan kewaspadaan seorang pemimpin kartel.
Bratva tersenyum tipis.
"Aku hanya ingin berkenalan denganmu, Tuan Guzman."
Guzman terkekeh kecil, lebih terdengar seperti ejekan.
"Berkenalan?" ulangnya. "Atau kau sedang ingin bermain-main denganku?"
Tatapannya menyipit.
"Siapa namamu?"
Pria di depannya perlahan melepas kacamata hitamnya.
Dan untuk sesaat, ruangan itu terasa jauh lebih dingin.
"Cassanno."
Sunyi.
Tidak ada yang bergerak.
Beberapa pria di belakang Guzman bahkan refleks menegakkan tubuh mereka. Nama itu terlalu besar untuk tidak dikenali.
Sementara Bratva hanya menyunggingkan senyum miring.
"Aku tidak sebengis yang orang-orang katakan," ujarnya santai sambil terkekeh pelan. "Jadi tenang saja."
"Turunkan senjata kalian!"
Perintah Guzman terdengar cepat, walau suaranya sedikit berubah tegang.
Bratva kembali tertawa kecil.
Sungguh menyedihkan.
Orang-orang selalu terdengar paling berani sebelum mengetahui siapa lawannya.
"Aku tidak datang untuk membuat keributan," ucap Bratva sambil melangkah mendekat beberapa langkah. "Aku hanya ingin putriku kembali."
Guzman menatapnya tajam.
Pria tua itu ikut maju hingga kini mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Aroma cerutu bercampur alkohol menusuk indera penciuman Bratva dan sukses membuatnya muak.
Cukup lama keduanya saling menatap tanpa suara.
Hingga-
Dor!
Dor!
Suara tembakan memecah ruangan.
Salah satu anak buah Guzman tumbang dengan lubang peluru tepat di kepala. Tubuhnya ambruk di lantai beton dengan suara keras.
