'Axel confession'

1.1K 137 24
                                        

Cklek!

Andeo membalikkan tubuh dan mendapati Axel berjalan memasuki ruang pribadinya dengan kedua tangan berada dibalik saku Hoodie yang pria itu kenakan,membuatnya menghela nafas sesaat lalu mempersilakan adik temannya itu duduk disofa yang berhadapan langsung dengan jendela besar yang menampakkan pemandangan gedung-gedung tinggi diMexico city.

"Mau minum teh terlebih dahulu?"

"Langsung saja pada tujuan utamamu memintaku datang kemari",ucap Axel dengan raut datar.

"Ehkem",Andeo berdehem sebelum mengeluarkan ponsel dari saku celana kain yang ia kenakan,"Kau kenal orang ini?",tanyanya seraya mengarahkan layar ponsel miliknya pada Axel.

Sesaat pria itu diam,memperhatikan foto yang tertera dilayar ponsel Andeo,dimana seorang wanita tua berdiri seraya tersenyum manis.

"Raina"

"Apa yang tidak kau sukai darinya?"

"Pengkhianatan"

"Apa balasan yang tepat untuk seorang pengkhianat,menurutmu?"

"Kematian",jawab Axel singkat,menyilangkan kedua kakinya, kemudian menyandarkan kepalanya pada sofa yang ia duduki seraya memejamkan mata.

Andeo menganggukkan kepalanya beberapa kali,menggeser layar ponselnya sebelum kembali mengarahkan benda pipih itu didepan wajah Axel,"Aku yakin kau kenal pria ini",ujarnya.

Axel membuka mata tanpa berniat merubah posisinya,memperhatikan foto seorang pria yang terbaring di atas brankar,kemudian mengangguk sekilas,tentu saja ia kenal,"Hm".

"Apa menurutmu seseorang harus berhadapan dengan kematian agar kesalahannya diampuni?"

"Hm,itu hukuman yang paling pas untuk mereka yang melakukan kesalahan",jawab Axel acuh,kembali memejamkan matanya dengan raut tenang.

Lagi-lagi Andeo mengehala nafas,itu semua adalah jawaban yang tidak ingin ia dengar dari pria berwajah tampan didepannya ini,"Apa kejadian 10 tahun silam adalah awal? Atau justru kau sudah pernah melakukan hal serupa sebelumnya?"

Sontak Axel membuka kedua matanya,menegakkan tubuh dengan sorot tajam mengarah pada Andeo,"Apa yang sedang kau bicarakan?",ucapnya dingin.

"Atas dasar apa kau melakukannya? Kudengar mereka yang terbunuh adalah orang-orang pilihan yang bekerja dengan ayahmu,apa ada seseorang yang memintamu melakukannya? Atau justru itu semua berdasarkan kemauanmu sendiri?"

Mendengar pertanyaan bertubi-tubi keluar dari mulut pria dihadapannya, membuat Axel mengepalkan kedua tangannya erat,hingga urat-uratnya tampak menonjol.

"Apa mereka yang memintamu untuk mengintrogasi ku?",tanyanya dengan senyum miring.

"Apa yang kau rasakan setelah kejadian hari itu? Apa bayang-bayang mereka yang telah kau bunuh terus menganggumu? Sehingga kau mengkonsumsi obat-obatan untuk mengalihkan pikiran?",lagi,Andeo mengabaikan pertanyaan Axel dan terus melontarkan pertanyaan pada pria itu yang kini mengatupkan giginya rapat dengan rahang mengeras.

"Jangan coba mencari tahu apapun dariku",desisnya dengan sorot tajam.

"Apa yang kau lakukan pada Ailen?"

Axel sontak berdiri dengan kedua tangan saling mengepal disisi tubuhnya,menatap Andeo dengan tatapan membunuh,baru saja ia hendak berbicara,namun Andeo kembali bersuara.

"Kau mengatakan bahwa Ailen menghilang dari kamar saat kau terbangun,padahal kenyataannya kaulah yang menghilang lebih dulu. Dan Ailen yang menemukanmu dilantai 1 saat kau baru saja mulai menembaki para penjaga,membuatnya ketakutan hingga bersembunyi dibalik pilar yang berhadapan langsung dengan jendela kaca,dimana dia bisa melihat apa yang kau lakukan dibelakangnya dengan sangat jelas",ujar Andeo sembari bersedekap dada dan menatap Axel secara intens.

Bratva's MafiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang