Entah untuk keberapa kalinya umpatan itu keluar dari bibir pucat milik pria yang setia berdiri didepan pintu kaca dengan lampu merah yang terus menyala diatasnya,menandakan proses operasi sedang berlangsung.
"Tuhan kumohon selamatkan dia",ucap pria itu lirih dengan kedua mata terpejam,diikuti cairan bening yang mengalir membasahi pipinya.
Dari jauh tampak seorang pria berjalan mendekat dengan sebotol air mineral ditangannya,mengulurkan botol mineral itu pada pria yang kini berjongkok tepat disamping ruang operasi.
"Menjauh dariku"
"Jika kau bisa lebih mengontrol emosimu,ini semua tidak akan terjadi", ujarnya lalu duduk dikursi tunggu yang berada tepat didepan ruang operasi,"Aku sudah menghubungi keluargamu".
Azka,pria itu mendongakkan wajahnya menatap Zeycho yang kini juga sedang melihat kearahnya,"Aku akan membunuhmu setelah ini", desisinya tajam.
Zeycho terkekeh seraya melemparkan botol mineral yang sedari tadi ia pegang pada pria dihadapannya,"Terserah, setidaknya cuci tangan dan wajahmu terlebih dahulu. Kau terlihat seperti psikopat".
Araster berjalan memasuki kawasan rumah sakit dengan kedua tangan berada dibalik saku celana dan kaca mata hitam yang bertengger manis dihidung mancungnya. Mengabaikan tatapan kagum dari para suster dan ibu-ibu yang seolah ingin menculik dan menikahinya saat ini juga.
"Arast", Azka yang menyadari kedatangan Araster langsung berdiri,dan saat itu juga ia mengernyit karna kedua kakinya terasa kebas.
Tanpa aba-aba sebuah bogeman mentah mendarat tepat dirahang kanan Azka yang membuat pria itu terhuyung kebelakang dan berakhir terduduk dilantai karna tidak sempat menahan keseimbangan.
Bughh!
"Bangun kau sialan!", Dengan sekali tarikan pada kerah baju yang Azka kenakan,Araster berhasil membuat adiknya itu kembali berdiri tegak. Lalu tanpa berkata-kata lagi ia kembali melayangkan bogeman yang tepat mengenai sudut bibir Azka.
Bughh!
"Apa kau bodoh?!! Kau menembak adikmu sendiri sialan!!!"
Bughh!
Bughh!
Zeycho yang sedari tadi memperhatikan perkelahian keduanya,tepatnya hanya Araster yang terlihat seperti sedang berkelahi sementara Azka hanya berdiri tanpa melakukan perlawanan,membiarkan wajahnya berkali-kali dipukul. Sontak mengernyit saat suara bass milik Araster menggema,membuat para perawat dan petugas yang saat itu sedang berada disekitar ruangan operasi menatap keduanya dengan raut penasaran.
"Sorry", dengan susah payah Azka mengeluarkan suara,kerongkongannya terasa sangat kering bahkan seluruh wajahnya kini berdenyut hebat karna pukulan bertubi-tubi yang baru saja ia terima.
"Cihhh", Araster berdecih seraya mendorong tubuh Azka hingga pria itu kembali terduduk dilantai,"Jika bukan adikku,akan kupastikan otak tidak bergunamu hancur ditanganku saat ini juga".
Tidak lama dari itu,kelima prince's datang dengan keadaan yang tidak jauh berbeda dengan Araster. Bahkan saking terkejutnya dengan berita yang mereka dengar,Aren datang hanya dengan kaos tanpa lengan yang dipadukan dengan celana pendek diatas lutut. Kelima prince's itu terbang ke Columbia menggunakan pesawat yang berbeda dengan yang membawa Araster.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.