DM 11 || TERKUAK

4.7K 734 96
                                        

Aku tidak seperti kalian yang mudah untuk melupa dan menerima, entah mengapa hanya dia yang membuatku berdebar.

Marvael A Grispara.

Aku di tengah keasingan, aku di tengah badai, aku teriris melihat tatapan penuh murka darinya, dan aku masih berdiri sendiri.

Terajio B Grispara.
________




Kaki Vasya mendadak lemas melihat Teresa yang menatapnya penuh intimidasi, ia berharap Misya pingsan di dalam rumah keluarga Grispara agar gadis itu tidak menampakkan wajah di waktu yang tidak tepat ini.

"I-ini rantai sepeda gue lepas Kak, mau benerin dulu." ungkap Vasya dengan kebodohannya.

Teresa mengernyit melihat rantai sepeda adik kelasnya itu masih terpasang rapi dan baik-baik saja. "Itu masih bener kok."

Vasya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dia semakin kalang kabut mendengar suara gembok gerbang yang berdecit, menandakan gerbang itu akan segera terbuka.

"Ehehe iya, KAK TERESA sendiri ngapain berdiri di luar rumah kayak gini, ya?" tanya Vasya dengan mengeraskan suaranya dibagian nama Teresa agar Misya mendengarnya.

"Oh, aku lagi buang sampah. Em itu siapa yang buka gerbang? Marva bukan?" Teresa menunjuk ke samping rumahnya.

"Bukan-."

"Tere! Kamu lagi apa disitu? Sini bantu Mom masukin benang ke jarum!" suara nyaring emak-emak yang berdiri di teras rumah Teresa membuat dua insan itu mengalihkan atensinya.

"Iya Mom bentar, Misya aku masuk dulu ya? Dah."

Vasya menghela napas lega setelah Teresa berlalu untuk menghampiri Maulen-Mommy nya.
Gadis itu mengintip ke tembok pembatas rumah Teresa dan Marva, begitu terkejutnya Vasya melihat wajah yang sama persis dengannya sedang menodongkan kepala juga ke arahnya.

"Buju busrak!" kaget Vasya yang sepontan menoyor kepala Misya.

Misya mendengus, ia mengusap kepalanya sendiri. "Kira-kira dong njir!"

"Lagian lo tolol banget pake nongolin kepala segala, ngapain sih lo ke rumah Kak Marva? Udah gila lo ya?" Vasya mengomeli adik kembarnya, matanya melotot membuat Misya kesulitan menelan ludahnya sendiri.

"Iya maaf, Sya. Gue mau ngadu ke Kak Marva tentang kecurigaan gue sama Kak Niken yang selingkuh-."

"Lo pikir Kak Marva bakal percaya gitu aja? Perlu bukti Misya bego!" sela Vasya kesal. "Mending sekarang lo balik, jangan lupa angkatin jemuran!"

Misya manggut-manggut sambil berjalan menjauh sesekali menoleh untuk memastikan Vasya masih memperhatikannya.

"Kakak, adek sakit hiks." ujar Misya dramatis sambil meletakkan punggung tangannya diatas dahi.

"Misya!" desis Vasya yang sudah kehilangan kesabaran, adik kembarnya itu segera berlari dengan tawa yang membahana.

Memastikan si Misya otak kecil itu sudah menjauh dari sini, Vasya segera memasuki pekarangan rumah Naya dengan menuntun sepedanya.
Nampaknya ke empat Bodyguard itu keheranan dengan pakaian Vasya yang berbeda dari sebelumnya.

Tidak peduli, Vasya segera melenggang masuk ke rumah untuk menjalankan tugasnya.

Marva sudah tampil fresh dengan pakaian santai ala rumahan, dia berjalan menuruni tangga dengan mengusak rambutnya yang basah. Sebenarnya Marva malas keluar dari kamar karena pasti ia akan bertemu Jio yang ternyata pulang lebih cepat darinya, tapi perut Marva yang keroncongan membuat cowok itu menurunkan sedikit gengsinya.

Different Marvasya [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang