Thank u antusiasnya kemarin, enjoy❣
~~~
Tribun lapangan Sekolah Bangun Jaya diisi penuh oleh siswa-siswi yang menonton latihan volly putri yang 6 hari lagi akan diperlombakan. Marva duduk dengan mengambil jarak yang cukup jauh dari mereka, ditangannya ada sebotol air mineral untuk Teresa.
"Sasa semangat!" gumamnya tanpa suara namun Teresa melihatnya, gadis itu mengangguk dan melambaikan tangan pada Marva.
Aura negatif dan mencekam yang sangat kuat dalam diri Marva membuat cewek-cewek enggan berdekatan atau menggodanya, tatapan Marva yang tajam saja sudah membuat kaki mereka lemas, apalagi jika dia menatap dengan netra birunya itu.
Marva menarik senyum tipis ketika Teresa berhasil mencetak point, gadis itu melempar kiss jauh membuat senyum Marva semakin melebar. Sebenarnya dia tidak suka jika Teresa mengikuti perlombaan seperti ini, orang-orang hanya akan menatap tubuh gitar spanyol milik Teresa.
Hingga bermenit-menit, tibalah saat tim Teresa istirahat. Kepala Marva celingak-celinguk mencari keberadaan sahabat kecilnya itu di tengah kerumunan, ada yang datang tapi bukan Teresa.
"Hufft... lo pengertian banget, Va, thanks." dengan tidak tau malunya Niken merebut botol ditangan Marva dan menenggaknya begitu saja.
Sedari tadi Niken sudah ge-er Marva ada di tribun, dia pikir Marva hadir untuk dirinya, padahal demi Teresa Marva rela panas-panasan dan duduk di tengah keramaian sendirian.
"Marva, ini minumannya pasti murah kan?" Niken memperlihatkan botolnya.
"Iya murah, kayak harga diri lo." ketus Marva tanpa menatap Niken.
Niken mencebikkan bibir, tapi sedetik kemudian wajahnya kembali sumringah, "makasih ya udah hadir di sini, walaupun lo gak teriakin nama gue, tapi gue udah semangat kok lihat lo di sini."
"Gue di sini buat cewek tinggi, putih, semok jir. Bukan cebong macam lo!" geram Marva berhasil memberi efek buruk dihati Niken.
Maaf Bunda Ava ngomong kasar sama cewek, lagian dia nya ngeselin. batin Marva.
"Marva?" panggilan dari Teresa yang sudah berganti pakaian dengan seragam sekolah putih abu-abu membuat Marva berdiri.
Dengan sengaja Marva mengelap dahi Teresa yang berkeringat dan meniupnya pelan, melingkarkan tangannya dipinggang Teresa membuat gadis itu terkejut. Marva membawa Teresa menjauh meninggalkan Niken yang mencak-mencak.
"Anjirlah lo main rangkul aja." Teresa melepaskan rangkulan Marva dipinggangnya setelah menjauh dari Niken.
"Buat manas-manasin si wewe gombel."
Teresa hanya ber'oh' ria, bertahun-tahun mengenal Niken, baru kali ini dia melihat sifat asli seorang Vrey Niken. Ckckck sangat brengsek sekali.
"Kak Marva!" seorang gadis mencegah jalan mereka, "ada waktu gak? Bisa kita bicara sebentar?"
Marva menaikkan alis, untuk apa kembaran Vasya menemuinya, "iya, ngomong aja."
"Eum.. gak di sini Kak, kita perlu ngobrol empat mata." gumam Misya melirik Teresa.
"Kenap-."
"Va, gue mesti nemuin guru olahraga dulu nih, mau bahas tak-tik lagi." Teresa yang sangat peka lantas segera berlari menjauh meninggalkan mereka.
Marva menghela napas, "mau ngobrol di mana?"
Misya hanya diam, dia berbalik dan berjalan mendahului Marva. Cowok itu mengekori Misya santai dengan sebelah tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Different Marvasya [COMPLETED]
Teen FictionBagaimana mungkin aku dan dia akan menyatu, cara kami menyebut Sang Pencipta saja berbeda. (Marvael Arludra Grispara). Bicara tentang perbedaan, sebenarnya perbedaan itu indah, rasa ingin memiliki satu sama lain yang membuatnya terasa pedih. (Varasy...
![Different Marvasya [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/244290906-64-k480355.jpg)