DM 37 || MENGBAPER

3.9K 759 366
                                        

Sebenarnya aku hancur setiap harinya, rapuh disetiap nafas yang ku hela, tapi masih ada yang ingin melihat senyumku.

Marvael A Grispara.



Sinar matahari pagi ini terasa sangat menyengat hingga membuat siswa-siswi kelas 10 IPA 3 yang sedang melangsungkan pelajaran olahraga jadi mengeluh tak bersemangat.

"Semangat!" Seru Najib pada Levi dan Misya dengan sekotak susu ditangannya, cowok itu hanya duduk di tribun lapangan karena sebelah tangannya yang masih digips.

"Gak usah ditemenin anjir dia mah," bisik Misya yang diangguki Levi.

"Tapi nanti nangis Mami nya ke sini," sahut Levi sambil melirik Najib yang menampilkan wajah songongnya.

"Bilang aja, anaknya gak ada akhlak, Tan." Misya terbahak setelah mengatakan itu.

"Hey! Kalian bercanda terus, sini gilirian kalian praktekin shotting yang tadi saya contohkan!" Tegur Fansa selaku guru olahrga.

Misya berguman, "bokapnya Kak Tere galak, jir!"

Mereka berdua dengan ogah-ogahan memungut bola basket masing-masing, Misya mempersilahkan Levi terlebih dahulu. Satu kali percobaan bola itu dengan mulusnya memasuki ring, wajar dengan postur tubuh tinggi yang Levi miliki.

Kini giliran Misya, dirinya bahkan sudah menyerah sebelum mencoba. Dia menengok ke belakang, semua teman kelasnya tak terkecuali Fansa kini sedang menatapnya.

"Bwahaha!" Gelak tawa terdengar setelah Misya melempar bola, bahkan bola itu tak sedikitpun menyentuh ring.

Misya mendengus kesal, ia mengambil bola lagi untuk melakukan percobaan yang kedua.
Gagal lagi. Misya mendapat ejekan lagi dari mereka karena merasa lucu dengan tubuh mungil Misya yang melompat.

"Diem lo!" Garang Misya pada Najib yang ketawanya paling keras.

Tak menyerah, Misya akan mencoba sekali lagi, kali ini ia bertekad ingin membungkam semua mulut yang menertawakannya. Dia mulai mengambil posisi, dan dihitungan ketiga dalam hati Misya mulai menembak dengan sekuat tenaga hingga bolanya melambung tinggi sampai melewati ring lalu berakhir...

Bugh!

"Aduh!"

Mata Misya membelalak melihat bola yang ia lempar meleset menghantam kepala seseorang, dia berlari menghampiri gadis itu diikuti oleh yang lain.

"Kak Niken? Duh! Sorry gue gak sengaja," ucap Misya penuh rasa bersalah.

Niken memegangi kepalanya yang terasa berdenyut, matanya yang berkaca-kaca kini mencoba menatap sang pelaku yang membuat kepalanya cenat-cenut.

"Lo!" Geram Niken menunjuk wajah Misya murka.

"Sebentar, saya panggilkan petugas UKS untuk memeriksa keadaan kamu." Fansa bergegas meninggalkan kerumunan.

"Lo gak pa-."

Brek!

Mulut Misya terbuka lebar tak percaya dengan apa yang Niken lakukan, Niken menarik kalung miliknya yang merupakan pemberian terakhir dari Lena--Ibu nya, dan sekarang kalung dengan liontin bunga anggrek itu sudah patah dan hancur berceceran di lantai.

"Brengsek lo!" Levi mendorong kasar bahu Niken membuat cewek itu berdecih.

Levi berjongkok memungut kalung milik Misya dan memberikannya pada gadis itu, hendak memberi pelajaran pada Niken tapi Misya menghentikannya.

"Lo gak perlu ngelakuin ini ke gue, Kak. Gue udah minta maaf, gue bilang gak sengaja. Lo gak tau kan, betapa berharganya kalung ini buat gue?" Lirih Misya dengan mata memanas.

Different Marvasya [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang