Jan lupa bintang dulu sama komen!😃🍒
________
Suara kereta api yang melintas dibelakang rumahnya membuat ranjang berbahan kayu tempat gadis itu terbaring terasa bergetar, ditambah dengan pancaran sinar matahari yang menembak celah-celah kamar mengusik gadis itu dari tidur lelapnya.
"Hoam!" Gadis itu menguap lebar dengan sebelah tangan mengucek matanya.
Vasya beranjak dari kasur menuju single bed yang bersebrangan dengannya, dia memutar bola matanya malas melihat adik kembarnya itu masih setia memejamkan mata dengan telinga yang disumpel ear phone.
"Mi bangun woy, sekolah lu!" Vasya mengguncang bahu Misya.
Misya membuka satu matanya yang berat, hanya beberapa detik saja kemudian terpejam lagi membuat Vasya mendengus kesal.
"Lo aja lah yang berangkat, ada pelajaran Bahasa gue males," gumam Misya, suaranya terdengar serak dan masih setia menutup mata.
"Ogah dih, kagak bisa!" Vasya bersedekap dada, masih berusaha membangunkan Misya dengan cara menendang bokongnya.
"Kita kan kembar, Sya. Apanya yang gak bisa?" Misya terpaksa membuka matanya, menatap malas kembarannya yang berdiri dengan wajah bodoh.
Seketika Vasya menepuk jidat dan memamerkan senyum lebarnya, buru-buru ia keluar kamar untuk mandi karena jam sudah menunjukkan pukul enam lewat.
"Heh, Jalang! Mau kemana kamu?"
Suara berat yang berasal dari bangku rotan di ruang tamu membuat Vasya menoleh, ia menarik napas dalam-dalam siap menerima segala macam tindakan tidak senooh yang diberikan orang tua kandungnya.
Plak!
Benar saja, ketika Vasya menghampiri laki-laki yang sedang menonton tayangan berita di televisi kecil itu, tamparan telak langsung mendarat dipipinya.
"Mana uang hasil jualan sate semalem? Jangan bilang kamu hambur-hamburkan di club bersama pria hidung belang!" teriak Bigis--Ayah Vasya dan Misya.
Perkataan yang keluar dari mulut Bigis selalu saja membuat hati Vasya sakit, bahkan pria itu tak segan-segan menyiksa Vasya padahal anaknya itu tidak melakukan apa pun.
Berbeda dengan cara Bigis memperlakukan Misya, ia selalu menyanjung dan mengasihi anak bungsunya itu ketimbang Vasya.
Entah apa dosa besar yang Vasya perbuat sampai membuat Bigis begitu benci padanya.
Perlakuan Bigis membuat Vasya tumbuh menjadi remaja yang tertekan, tidak dibiarkan bergaul dengan teman-temannya, hidupnya hanya diarahkan untuk mencari uang, uang, dan uang. Padahal itu semua masih menjadi tanggung jawab Bigis sebagai kepala rumah tangga.
"Di lemari, Pak," jawab Vasya cukup kalem, ia sudah terbiasa dengan semua ini.
"Ambil!"
Dengan segera, Vasya berlari menuju kamar mengambil uang hasil dagangan sate ayam semalam. Jumlahnya cukup banyak karena sate ayamnya terjual habis semalam, mengingat menjual sate, Vasya jadi kepikiran dengan laki-laki bermulut nyinyir yang ia tibani waktu terpeleset kulit pisang.
"Maaf," gumaman Misya yang duduk diatas kasur dengan lutut ditekuk membuyarkan lamunan Vasya.
Vasya memamerkan senyum lebar sembari mengangkat jempolnya pertanda ia baik-baik saja. Misya sudah bangun sejak suara Bigis menggelegar ketika membentak Vasya, tapi apa lah daya Misya yang tidak bisa membantu atau pun melindungi kembarannya dari kemarahan Bigis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Different Marvasya [COMPLETED]
Teen FictionBagaimana mungkin aku dan dia akan menyatu, cara kami menyebut Sang Pencipta saja berbeda. (Marvael Arludra Grispara). Bicara tentang perbedaan, sebenarnya perbedaan itu indah, rasa ingin memiliki satu sama lain yang membuatnya terasa pedih. (Varasy...
![Different Marvasya [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/244290906-64-k480355.jpg)