DM 45 || JANGAN PERGI

3.6K 753 273
                                        

Jika perpisahan semenyakitkan ini, jangan biarkan hatiku terlalu sayang pada seseorang.

Karnaya Ralnadhiya.


Sudah beberapa bulan pernikahannya berjalan baik bersama Vasya. Nyatanya Marva tetap dibuat terguncang oleh keadaan.

Percakapannya dengan Vasya di pelataran rumah sakit Bogor tadi pagi membuat Marva menghindari perempuan itu, melihatnya membuat hati Marva semakin sakit.

Ibarat Marva telah mempunyai mawar merah, namun masih ada duri yang melukai tangannya ketika menggenggam mawar merah tersebut.

Cowok itu menarik sudut bibirnya ketika Vasya membalas dm-nya di aplikasi instagram. Marva kembali mengetikkan sesuatu, namun balasan Vasya kali ini membuatnya termenung. Dia lantas mematikan ponselnya dan membuang benda pipih dengan kamera tiga itu ke sembarang arah.

Kira-kira beginilah isi dm-an mereka.

Kira-kira beginilah isi dm-an mereka

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Marvael." Suara wanita yang mengalun lembut membuat Marva segera bangkit dari tidurannya dan memasang senyum selebar mungkin.

"Bunda kok belum tidur?"

"Kan ada bayi tua yang harus minum susu sebelum tidur," kekeh Naya, menyerahkan segelas susu karamel pada Marva.

Cowok bermanik biru itu ikut terkekeh, menenggak susunya hingga habis. Naya memang paling mengerti kalau Marva tidak suka makanan atau minuman jika terlalu panas.

"Makasih, Bunbun." Marva mengembalikan gelas kosong pada Naya.

"Bun, malam ini boleh gak, Ava tidur sama Bunda?" pinta Marva sambil memasang puppy eyes nya.

Naya mengetukkan jari telunjuknya didagu seolah berpikir keras, "eum... boleh gak ya?"

"Bunda~," gemas Marva memeluk Naya yang berdiri di samping ranjangnya dengan menduselkan wajah diperut rata Naya.

"Haha geli Ava, iya-iya boleh yuk."

Marva menatap Naya dari bawah dengan senyum lebar, menggiring wanita itu keluar dari kamarnya.

"Ampun- eh ampun," kaget Bi Sumi yang sedang menyapu di depan pintu kamar Marva, tentu bukan menggunakan sapu biasa.

"Duh, maaf ya, Bibi kaget ya? Marva sih buka pintunya gak pelan-pelan." Naya memukul pelan lengan si bungsu.

"Kebetulan ada Bibi, maaf tolong titip gelas bekas susu Ava ya, makasih." Marva menyodorkan tangan Naya yang memegang gelas agar memberikannya pada Bi Sumi.

Different Marvasya [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang