DM 57 || BUKAN AKHIR

3.1K 697 371
                                        

Dulu kita bagaikan minyak dan air yang sulit menyatu, sekarang kita bagaikan masakan dan bumbu yang sulit terpisahkan.

Marvael A Grispara.


2 tahun kemudian...

Waktu bergulir begitu terasa bagi seorang Marva, dulu dia yang selalu berkutat dengan mata pelajaran sekolah dan kantornya kini telah menjadi pengusaha sukses. Dulu dia yang memiliki bayi kembar suka ngompol kini sudah bisa berjalan, dan Arga sebagai Om nya pun telah dikaruniai seorang putra yang lucu.

"Ih dedek bayi nya tenyum-tenyum lucu."

"Eh, Bang Didip!" Nadinta menampol kakak kembarnya dengan tangan mungilnya, "bukan tenyum, tapi senyum."

"Telcelah Abang dong, kok Tata yang lepot?" Pradipta memberenggut kesal.

"Tuh kan, bukan lepot tapi khepot," jelas Nadinta yang pengucapan 'R' nya sedikit lebih fasih daripada Pradipta.

"Heleh, gitu doang combong!" Pradipta menye-menye.

"Yaudah sih, kalo sama-sama gak bisa ya gak usah debat." Marva menengahi perdebatan kecil si kembar, dia yang sedang memberi makan Pou diponsel milik Vasya jadi sedikit terganggu akibat suara cempreng anak-anaknya.

Mendengar sang Papia bersuara membuat Bang Didip merasa menang, dia menjulurkan lidahnya mengejek membuat Nadinta geram.

Tanpa aba-aba Nadinta beranjak menyerang sang Abang dengan menjambak rambutnya dan menggigit pipinya sampai memerah.

"HUAAA PAPIA~." Tangisan Pradipta yang mirip gentong pecah membuat Marva terjingkat sampai ponsel dalam genggamannya terpental.

"Kenapa ini?" Marva bertanya pada Nadinta setelah membawa sang korban dalam gendongannya.

Nadinta memasang wajah polos sambil mengangkat bahu, "mana Tata tau, kan Tata lagi main sama dedek bayi."

Tangisan Pradipta semakin kencang kala mendengar elakan dari kembarannya. Sedangkan Marva memicing curiga, soalnya si Nadinta itu sangat bar-bar seperti dirinya, bocah itu seringkali membuat nangis Pradipta.

Ingin rasanya Pradipta membalaskan dendamnya pada sang adik, tapi telinganya tidak sudi mendengar tangisan cempreng Nadinta yang menggetarkan jiwa raga, alhasil dia melampiaskan kekesalannya pada Marva.

"Aduh! Kok Papia yang digigit? Ke Tata dong." Marva mengusap pipi bekas gigitan bocah pipi gembul dalam gendongannya.

Melihat Marva kesakitan membuat Pradipta puas, tangisnya seketika mereda dan digantikan tawa terpingkal-pingkal begitu pula dengan Nadinta.

Merasa di sekelilingnya tidak ada yang waras, bayi nya si Arga jadi menangis histeris seakan meminta tolong agar terhindar dari orang-orang ini.

Dengan tergopoh-gopoh Arga berlari ke kamarnya mendengar tangisan sang buah hati, dengan cara menggendong yang masih kaku dia menimang-nimang bayi yang dikaruniai hidung mancung serta bibir mungil nan tipis, alisnya menurun dari Arga namun matanya mirip Feronika.

Diberi nama yang indah, yakni
Miqael Iswara Gibranata.

"Kagak ngompol, kagak beol, pasti nangis gara-gara kalian nih," omel Arga sambil melayangkan tatapan tajam pada Marva dan kedua krucilnya.

Different Marvasya [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang