Kukira, aku adalah satu-satunya yang menjadi titik sorot pandanganmu, ternyata ada dia belakangku.
Varasya Xiallena.
Vasya membanting pintu apartemennya membuat Niken terlonjak kaget di luar sana.
Dia menatap perutnya yang semakin membesar, apakah 'mereka' tidak ada artinya bagi Marva?
"Boleh ngomong asu gak sih?" Vasya menyapu kasar air matanya yang jatuh.
"Eh, ini udah ngomong," kekehnya parau.
Vasya memungut kemeja Osis Marva yang tergeletak di lantai, dia berjalan menuju jendela yang belum tertutup, menampilkan petir yang saling menyambar dan menyatu dengan derasnya hujan.
Dia menghirup dalam-dalam parfum yang masih saja terasa dikemeja Marva, pandangannya tak sengaja jatuh pada cap bibir dibagian bahu kemeja itu.
"Curutnya siapa yang berani nyium suami gue?"
Perempuan dengan rambut acak-acakan itu berjalan mencak-mencak menuju kamarnya, dia menggantung kemeja osis Marva dibalik pintu kemudian membanting tubuhnya ke kasur empuk yang besar.
"Aduh, tuyul-tuyulnya Mimu keguncang ya? Maaf ya." Bibir Vasya mengerucut, dia mengusap perutnya penuh kasih sayang.
Malam ini dia tidur dikasur sebelah kanan, tempat Marva, agar dia bisa merasakan kehangatan cowok itu. Namun ada yang mengganggu kepalanya, sepertinya ada sesuatu di dalam sarung bantal ini.
"Surat apa ini? Kok ada nama gue?" gumamnya ketika menemukan amplop surat didalam sarung bantal yang biasanya digunakan Marva.
Sepertinya itu adalah surat keterangan dokter untuk Vasya saat dia masuk rumah sakit di Brazil, dia tidak bisa membacanya karena bahasa asing yang tak ia mengerti.
Menyambar ponselnya, Vasya dengan teliti men-translate satu per satu kalimat yang tertulis di surat itu.
Air matanya jatuh tak terbendung ketika mengetahui inti dari surat itu, Vasya meremas-remas surat ditanggannya kemudian melemparnya begitu saja dengan penuh emosi.
"Dalam 10 bulan disisa hidup gue, gue mau ngelakuin apapun yang gue suka, hahaha." Vasya tertawa keras sambil memukul-bukul bantalnya, namun air matanya masih mengalir dengan deras.
Vasya mengusap perutnya dan bergumam, "maaf, aku bukan Ibu yang terbaik. Aku cuma bisa menemani kalian selama satu bulan setelah kalian lahir."
🍈🍈🍈
Kelopak mata yang dihiasi bulu mata lentik itu perlahan terbuka, menampilkan iris biru seseorang yang bergemerlap. Cowok itu menguap lebar sambil melirik jam yang menunjukkan pukul setengah enam pagi.
Marva tidak jadi beranjak merasa sebuah tangan melingkar diperutnya, Marva memutar bola matanya malas melihat Teresa masih terlelap dengan dengkuran halusnya.
"Sa, bangun woy! Sekolah hayuk, kalau telat lagi gue hukum." Marva menarik-narik hidung Teresa membuat gadis itu mengerang.
"Minggir ah!" Teresa menyentak tangan Marva, beralih posisi memunggungi cowok itu.
"Dih, gak tau terimakasih udah gue temenin," dengus Marva memilih melenggang menuju rumah sebelah yang tak lain adalah rumahnya.
"Bunda~ yuhuu," koarnya memasuki rumah dengan menggaruk perutnya.
"Kyaa... Marva!" Naya menggeplak pelan tangan Marva yang tiba-tiba melingkar diperutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Different Marvasya [COMPLETED]
Novela JuvenilBagaimana mungkin aku dan dia akan menyatu, cara kami menyebut Sang Pencipta saja berbeda. (Marvael Arludra Grispara). Bicara tentang perbedaan, sebenarnya perbedaan itu indah, rasa ingin memiliki satu sama lain yang membuatnya terasa pedih. (Varasy...
![Different Marvasya [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/244290906-64-k480355.jpg)