DM 19 || BENTENG TINGGI

5.4K 838 412
                                        

Bagaimana mungkin kami akan menyatu, cara kami menyebut sang Pencipta saja berbeda.

Marvael Arludra Grispara.


Laki-laki itu tak hentinya berputar-putar di depan cermin, tak bosan menyebut dirinya sendiri sangat tampan, sesekali ia bergaya seperti para aktor tampan yang seringkali lewat di beranda instagram nya.

Marva menyemprotkan parfum ke balutan jaket denim yang kini sudah melekat sempurna ditubuh atletisnya, dia sampai batuk-batuk sendiri karena sangking banyaknya parfum yang dikeluarkan.

"Bunda gak ada di rumah, Ava bisa pergi yey yey!" Marva bersenandung ria sambil menuruni anak tangga dan berjalan jauh menuju pintu penghubung dengan basemant.

"Mau kemana, Va?" Jio yang kebetulan sedang berada disana dengan tangan yang sibuk mengelap kaca mobil mengagetkan Marva.

"Kaget atuh, ih!" dengus Marva.

Jio tersenyum, menaruh lap nya diatas mobil, lalu menepuk tangannya yang sedikit berdebu, cowok bule kesayangan keluarga Grispara itu berdiri dihadapan si bungsu.

"Maaf." cicitnya dengan raut wajah penuh penyesalan.

Mendengarnya Marva jadi terkekeh sumbang, "maaf atas kesalahan yang mana nih?"

"Yang tadi, ngagetin kamu." jawab Jio polos.

"Gue kira yang dulu." sindir Marva kemudian melenggang dari hadapan Jio.

Jio menghela napas lelah, Marva selalu saja bersikap dingin padanya, dia menaruh rasa kesal yang teramat dalam pada Jio yang sebenarnya juga korban di masa lalu itu.

"Itu semua kecelakaan-."

"Tetep aja lo yang udah nembak Ayah gue!" Marva berbalik badan, menatap Jio nyalang, "Ayah Gatra, laki-laki yang bahkan belum pernah gue cium punggung tangannya, dan lo... lo udah hilangin dia dari bumi ini, bodoh!"

Jio tertegun mendengar kalimat yang tercetus dari bibir Marva, laki-laki bermanik coklat terang itu menggeleng brutal, berusaha menggapai tangan Marva yang selalu ditepis.

"Aku cuma mau nyelamatin Ayah dari keroyokan preman itu, tapi peluru nya meleset. Marva, bayangin betapa takutnya Aa waktu itu, seorang anak berusia empat tahun menarik pelatuk pistol untuk menyelamatkan Ayah nya. Seharusnya kamu mikir sampe situ, Va." bibir Jio bergetar dengan dada naik turun.

"Andai aja lo gak datang di kehidupan Ayah dan Bunda, semua ini gak akan terjadi. Semua masalah di keluarga Grispara, itu karena pengaruh buruk dari lo anak pungut!" teriak Marva murka, mendorong bahu Jio kasar.

Naya yang baru kembali dari butik karena harus mengambil berkas yang tertinggal, dikejutkan oleh suara gaduh di basemant, segera ia berlari dan berdiri kaku diambang pintu melihat pertengakaran kedua putra tercintanya.

"Lo udah rampas kebahagiaan gue! Bunda gak akan stres dan berakhir membuat gue jadi orang yang punya kepribadian ganda, lo pembunuh!"

Tangan Naya bergetar mendengar ucapan Marva, apa benar ia yang menyebabkan Marva mempunyai kepribadian ganda? Sungguh Naya tak mengingat apapun yang telah ia lakukan pada Marva dulu.

Different Marvasya [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang