DM 25 || BERTEMU

4.3K 749 195
                                        

Tadinya hanya ingin memastikan, tapi malah ditampar  oleh kenyataan.

Marvael A Grispara.


Laki-laki dengan iris coklat terangnya yang khas itu duduk tidak tenang di dekat Bunda nya, sesekali dia mencuri-curi pandang pada gadis manis yang duduk di sebrang sofa nya.

"Bunda tinggal dulu ya? Biar kalian lebih santai ngobrolnya." Naya tersenyum ramah pada tamunya.

"Jangan!" Jio mencekal pergelangan tangan Naya ketika wanita itu hendak berdiri.

Naya tersenyum kikuk, dia kembali duduk dan berbisik, "Aa kenapa sih? Ajak ngobrol dong si Noni, masa Bunda nya harus temenin kalian terus."

Jio menggeleng dengan wajah piasnya, dia tidak ingin berduaan dengan Noni, Jio takut tidak bisa memulai pembicaraan dan menjadikan suasana menjadi awkward.

"Em, gak papa Tante. Aku ke sini cuma bawa hadiah buat Marva, katanya minggu kemarin ulang tahun ya?" Noni mengeluarkan kotak kecil dari tasnya.

"Aduh Noni maaf banget Tante lupa ngundang kamu." heboh Naya membuat Noni tertawa.

"Gak papa, Tan. Nanti tolong kasih ke Marva ya?" Noni menyerahkan hadiah itu pada Naya.

"Makasih banyak, Noni."

Naya menyenggol lengan Jio, "sana ajak Noni main gih! Jalan-jalan kek."

"Ih, Bunda~ jalan-jalan ke mana? Aa aja gak ada pengalaman ngajak jalan cewek, paling cuma Bunda sama Teresa." bibir Jio maju beberapa senti.

"Jio, kita ke taman Wayan yuk! Katanya di sana lagi ada bazar buku, kali aja ada diskonan novel juga." celetuk Noni antusias.

Naya mengangguk, menggerakkan dagu agar Jio menyetujui ajakan Noni. Si sulung Grispara itu mengangguk patah-patah, Naya hampir menyemburkan tawanya tapi sebisa mungkin ia tahan.

Setelah berpamitan pada Naya, mereka pergi menggunakan mobil Jio. Cowok itu hanya mengenakan celana levis selutut, kaus oblong putih, dan ditutup menggunakan jaket denim.

"Assalamu'alaikum, anak Ayah pulang!" lima menit kepergian Jio dan Noni, datanglah Marva yang baru pulang dari sekolahnya.

"Waalaiumsalam anak Bunda." sahut Naya yang tangannya dicium oleh cowok itu.

"Ava langsung mandi ya, Bun. Gerah banget nih." Marva menampilkan ekspresi begah, Naya hanya terkekeh dan menangguk menatap punggung putranya yang menaiki tangga.

Menunggu Marva selesai mandi, Naya bergerak ke dapur untuk memanaskan masakannya untuk Marva. Tak lupa ia menyeduh teh hijau favorit si bungsu.

Tepat Naya selesai dengan urusannya, Marva kembali turun dengan tampilan fresh dan pakaian yang lebih santai tapi tetap menarik untuk dilihat.

"Hem, enak nih. Trabas lah!" seru Marva semangat melahap makanan yang telah disiapkan Naya ke piring.

"Aca mana, Bun?" tanya Marva disela kegiatannya.

"Tadi pulang habis bantuin Bunda masak, katanya ada urusan penting di rumahnya." jelas Naya membuat Marva memanggut.

Selesai makan, Marva menikmati teh hijaunya sebentar kemudian pamit pergi ke coffe shop milik Gavin yang sudah diserahkan padanya. Mulai hari ini, Marva akan turun tangan mengurusnya sendiri.

Different Marvasya [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang