"Aku ini sedang hamil anak kamu, dokter Karys!"
Tentu saja pernyataan yang terlontar dari bibir perempuan bertubuh mungil itu membuat shok seluruh orang yang ada di dalam gedung, tak terkecuali Teresa yang mengintip di daun pintu dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf, anda jangan bicara sembarangan." Karys mencoba setenang mungkin, dia mencoba mengingat-ingat wajah perempuan ini.
"Tega sekali kamu tidak mengakui darah daging kamu sendiri." Perempuan itu menggeleng tak percaya sambil mengelus perutnya yang datar.
"KARYS!" panggil Fansa dengan nada tinggi sambil mengguncang kerah jas Karys, "Kamu mempermainkan anak saya, huh?"
Maulen yang melihat suaminya tersulut emosi lantas segera berdiri dan merangkul lengan Fansa.
"Sayang, tenang dulu. Aku percaya kok sama Karys, dia gak mungkin berbuat seperti itu," ucap Maulen menenangkan.
Marva yang sudah tidak tahan melihat drama murahan ini pun menyingsing lengan, dia tak terima jika sahabatnya diperlakukan semena-mena oleh laki-laki.
"Minggir! Gue mau tinju dada dokter Karys sampe kayak bunyi geludug," sungut Marva berapi-api.
"Papia, ihh." Vasya mencegah langkah suaminya dengan memeluk Marva dari belakang.
Mungkin menurut orang lain ini adalah hal yang biasa, tapi yang Marva rasakan adalah kenyamanan yang membuat emosinya sedikit turun. Apalagi sepuluh jemari Vasya yang menari-nari di dadanya.
"Tunggu dulu deh, Kak. Kamu dengar suara ambulance gak? Apa telingaku yang bermasalah?" bisik Vasya membuat Marva dengan sangat terpaksa melepaskan tautan tangan istrinya dari dadanya.
"Eh iya, aku juga dengar. Tapi yang lain kayaknya gak dengar, apa telinga kita sama-sama rusak? Anjir couple." Marva justru terkikik dengan tangan yang menguel-nguel pipi bulat Vasya.
Mama muda dua anak itu hanya memutar bola matanya malas, Marva ini tidak pernah serius dalam hal apapun. Kecuali mencintainya.
"Permisi semuanya, maaf mengganggu acara ini." Tiba-tiba lima laki-laki berpakaian serba putih datang berbondong yang dengan sigap mengunci kedua tangan perempuan mungil di hadapan Karys.
"LEPASIN! AKU GAK MAU IKUT SAMA kaa...lian," suara perempuan itu perlahan memelan setelah salah seorang laki-laki berpakaian putih itu menyuntikkan cairan bening dilengannya.
"Kalian?" heran Karys melihat bawahannya berada di sini.
"Maaf sebelumnya dokter Karys, pasien rehabilitas bernama Vivi ini tiba-tiba melarikan diri dari panti rehab setelah mendengar kabar bahwa dokter Karys akan menikah. Vivi sangat mengidolakan anda," jelas perawat laki-laki yang diketahui bernama Adit.
Karys memijat pelipisnya yang berdenyut, ternyata perempuan ini merupakan pasien lamanya. Wajar jika Karys lupa, karena pasiennya bukan hanya Vivi.
"Tolong kalian bawa kembali pasien, dan jangan sampai lalai lagi! Berikan pengawasan ketat juga pada pasien lainnya!" titah Karys tegas.
"Baik, dok. Untung saja kami memasang GPS pada jam tangan pasien Vivi. Sekali lagi maafkan kelalaian kami, dan selamat menempuh hidup baru untuk anda dan pasangan anda." Adit berucap mewakili teman-temannya.
"Saya belum sah sama Teresa," ujar Karys sedikit kesal membuat tamu undangan terkikik geli.
"Ah, iya maaf. Nanti akan kami kirimkan karangan bunga ucapan selamat pernikahan untuk anda." Adit menunduk sopan.
"Besok saja ngirimnya, malam ini saya akan sibuk dengan Teresa."
Ucapan Karys yang satu ini sukses membuat orang-orang tergelak, suasana yang tadinya mencekam berubah menjadi hangat kembali. Mana si dokter ngomongnya dengan wajah datar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Different Marvasya [COMPLETED]
Teen FictionBagaimana mungkin aku dan dia akan menyatu, cara kami menyebut Sang Pencipta saja berbeda. (Marvael Arludra Grispara). Bicara tentang perbedaan, sebenarnya perbedaan itu indah, rasa ingin memiliki satu sama lain yang membuatnya terasa pedih. (Varasy...
![Different Marvasya [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/244290906-64-k480355.jpg)