Bagaimana mungkin aku dan dia akan menyatu, cara kami menyebut Sang Pencipta saja berbeda. (Marvael Arludra Grispara).
Bicara tentang perbedaan, sebenarnya perbedaan itu indah, rasa ingin memiliki satu sama lain yang membuatnya terasa pedih. (Varasy...
Lekas sembuh luka, lekas membaik duniaku, dan lekaslah kembali engkau yang pernah pergi dariku.
Misyara Xiallena. • • •
Ada banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam otaknya ketika ia membuka mata, pandangannya menelusuri setiap sudut kamar yang tak ia kenali. Bau alkohol tercium kuat dibaju minim yang ia kenakan.
"Ini rumah siapa?" Teresa memijat pelipisnya, "sial, gue mabuk berat semalam."
Aroma makanan yang menguar membuat perutnya keroncongan, dengan lesu Teresa turun dari ranjang dan berjalan pelan keluar dari kamar.
Melihat sebuah ranjang yang di depannya terdapat televisi, Teresa sudah tau tempat tinggal siapa ini.
"Whoaa!" Kaget Teresa mendapati Karys sedang menyiapkan makanan di meja makan dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Karys mendongak, "pagi, Teresa."
Teresa mengerjap, kepingan memori semalam tentang Karys yang mendekap tubuhnya dan mencium bibirnya lalu kata-kata itu, apakah semuanya benar-benar terjadi?
Gue mabuk berat semalam, jadi jangan terlalu berharap, siapa tau cuma bawaan alkohol, gumam Teresa dalam hati.
"Mandi dulu sana! Saya sudah siapkan baju ganti untukmu, saya tidak nyaman melihat pakaian minim yang kamu kenakan saat ini."
Perkataan Karys membuat Teresa mengurungkan niatnya menarik kursi, dia mengangguk patah-patah dan berlari memasuki kamar mandi yang cukup luas. Terdapat lemari kecil yang tergantung, ternyata di dalamnya ada handuk dan baju wanita. Apa Karys sengaja membeli untuknya?
Gadis itu kembali dengan tampilan lebih segar, rambut panjang yang basah dan mata yang tidak sesuntuk tadi. Teresa duduk bersebrangan dengan Karys.
"Wah! Dokter masak sebanyak ini?" Mata Teresa berbinar.
"Tentu saja..." Karys menggantung ucapannya.
"Beli."
Teresa mendengus mendengar jawaban Karys, ia pikir Karys adalah salah satu laki-laki dingin, mandiri, pandai memasak yang mirip dengan tokoh cerita di dunia oren yang ia baca.
Teresa menyantap roti yang ia oleskan selai. Karys geleng-geleng kepala, dia beranjak dan berhenti di belakang kursi Teresa dengan mengambil alih handuk yang tersampir dibahu gadis itu.