Ternyata benar ya, orang yang paling dekat dengan kita adalah dia yang membuat luka paling dalam dan mengoyak perasaan kita.
Varasya Xiallena.
_______
"Mau tau cerita kelam gue, Kak?"
Marva dengan ragu memanggutkan kepala, gadis itu menarik pelan tangan Marva menuju gasebo yang letaknya sedikit jauh dari rumah tua, Marva duduk dengan perasaan tidak tenang, entah mengapa dirinya menjadi gugup seperti ini.
"Kalo itu menyakitkan lo karena mengingat masa kelam itu, simpan aja cerita lo!" ucap Marva yang melihat air mata tak hentinya keluar dari mata Vasya.
"Eng-enggak kok hiks.." Vasya mengusap air matanya, "huaaa Kak Marva."
Marva terlonjak kaget ketika Vasya menubruk tubuhnya tiba-tiba, gadis itu menyembunyikan wajahnya diceruk leher Marva, dengan tangan bergetar cowok itu membalas pelukan Vasya.
"Ssstt, udah gak papa gak usah cerita." Marva mencoba menenangkan Vasya dengan mengusap lembut punggung gadis itu.
"Hiks... gue pikir, gue juga harus berbagi cerita ke orang lain." Vasya menjauhkan tubuhnya dari Marva, ia bergumam maaf karena sudah lancang memeluk majikannya itu.
Ibu jari Marva bergerak mengusap jejak air mata Vasya, "cerita pelan-pelan ya?"
Vasya mengangguk lucu, ia menghirup napas dalam-dalam sebelum memulai untuk bercerita. Menceritakan masa lalunya yang kelam sama saja membuka luka dihati yang belum sepenuhnya kering.
"Dulu gue pernah dibuang ke panti ini sama Bapak, tepatnya setelah satu minggu Ibu meninggal dunia." Vasya kembali terisak, Marva menggenggam tangan gadis itu guna menguatkannya.
"Gue gak tau apa alasan Bapak ngelakuin itu dan kenapa dia sangat membenci gue, waktu itu umur gue belum genap 4 tahun. Dan tiba-tiba Bapak jemput gue untuk ikut pulang waktu usia gue menginjak 15 tahun, akhirnya gue ikut dia ke Jakarta. Gue pikir Bapak mau merubah dan kembali sayang sama gue, ternyata nggak, dia malah siksa gue setiap waktu."
Marva menarik Vasya ke dalam dekapannya, air mata cowok itu jatuh membasahi rambut Vasya, entah mengapa hatinya terketuk.
"Gue lelah dengan semua ini, Kak." lirih Vasya dengan suara yang sedikit teredam dalam dekapan Marva.
"Lo gak sendirian, lo punya gue, Bunda, dan teman lo Levi?" Marva menjauhkan tubuh Vasya, dia menangkup pipi bulat gadis itu, "Aca kuat, kan?"
Deg!
Panggilan itu, panggilan kesayangan Vasya sejak kecil. Hanya warga panti dan keluarganya sendiri yang memanggilnya dengan sebutan 'Aca', dan kini seseorang memanggilnya dengan sebutan yang sama, suatu kehangatan tersendiri bagi Vasya.
"Makasih, Kak Ava." Vasya terkekeh kecil karena memanggil Marva dengan panggilan kesayangan cowok itu.
Laki-laki itu ikut menarik bibirnya, mengacak gemas rambut Vasya.
"Di dunia ini bukan cuma lo yang menderita, gue juga. Gue belum menemukan cinta sejati gue, Varasya Xiallena."
Waktu seakan berhenti bagi Vasya, pupil matanya membesar dengan degup jantung yang terbilang tidak normal. Apa dia tidak salah dengar, nama perempuan yang disebut oleh Marva?
"Apa, Varasya Xiallena? Nama itu..."
"Ya, dia cewek di masa lalu gue yang gak bisa pergi dari pikiran gue. Dia selalu menghantui gue, perasaan gue bahkan gak bisa berubah sedikit pun padanya." jelas Marva membuat Vasya bungkam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Different Marvasya [COMPLETED]
Fiksi RemajaBagaimana mungkin aku dan dia akan menyatu, cara kami menyebut Sang Pencipta saja berbeda. (Marvael Arludra Grispara). Bicara tentang perbedaan, sebenarnya perbedaan itu indah, rasa ingin memiliki satu sama lain yang membuatnya terasa pedih. (Varasy...
![Different Marvasya [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/244290906-64-k480355.jpg)