Aku bersinar dalam kegelapan, namun redup dalam cahaya.
Misyara Xiallena.
•
•
•
Rasanya sudah lama sekali Vasya meninggalkan Bigis dan Misya, kerinduan hanya bisa ia telan pahit-pahit menyadari posisinya sekarang. Ya walau Bigis tidak memperlakukannya dengan baik, tapi dialah orang tua yang tersisa satu bagi Vasya.
Menikah tanpa wali dan tanpa restu sudah ia jalani bersama Marva, dengan tekad kuat tidak meninggalkan kepercayaannya masing-masing, bukan hanya sekedar tanggung jawab tapi karena cinta, Vasya yakin suatu saat nanti hubungannya dengan Marva akan diakui dan direstui semua orang. Tunggu waktunya saja.
Vasya memejamkan matanya ketika merasakan tangan kekar melingkar diperutnya, pegangannya pada pagar pembatas balkon semakin menguat merasa lehernya diendus oleh seseorang yang memeluknya dari belakang, siapa lagi kalau bukan ulah suaminya.
"Ngapain di sini? Udah malam lho, kasian si bayi kedinginan," bisik Marva.
"Pemandangan kota diliat dari sini bagus banget, Kak. Jadi pengen terjun," celetuk Vasya membuat mata Marva mendelik, dia membalikkan tubuh mungil Vasya agar menghadap kearahnya.
"Ngomong apa sih Nyonya Grispara ini, hm?" Marva menyingkirkan anak rambut Vasya ke belakang telinga, menggendongnya memasuki kamar dan merebahkannya ke kasur dengan hati-hati.
Jari telunjuk Vasya menyentuh jakun Marva yang kini berada diatas tubuhnya, "Kak Marva gak pulang?"
"Pulang? Kenapa harus pulang, ini kan malam pertama kita sayang."
Blush! Vasya berguling menjauhi Marva dan menyembunyikan wajahnya dibantal, pipinya terasa panas dengan sensasi geli diperutnya. Marva terbahak.
"Jangan guling-guling atuh, ntar anak gue kegencet," kekeh Marva beringsut memeluk Vasya dari belakang.
"Sana ah jauh-jauh! Mual tau kalo deket-deket sama lo, Kak," dumel Vasya masih dalam posisinya.
Marva tak bergeming, tangannya berani menelusup ke dalam piyama Vasya dan mengelus perut Vasya yang masih datar sambil memejamkan mata.
"Ca, kalo seandainya Laskar atau Piu tiba-tiba muncul, lo jangan kaget ya? Cukup hubungi dokter Karys atau pencet kuat-kuat jempol tangan gue selagi dokter Karys dalam perjalanan," tutur Marva membuat Vasya terdiam.
"Kapan mereka akan muncul?"
"Piu muncul kalo gue lagi sedih, Laskar muncul kalo gue gak bisa ngendaliin emosi. Makanya jangan buat gue emosi kalo lagi deket sama lo." Marva mengecup singkat tengkuk leher Vasya.
Vasya mengangguk, dia menerka-nerka apakah yang selama ini ia lihat ketika Marva mendekati Misya apakah saat itu Laskar yang sedang mengendalikannya? Mungkinkah? Vasya masih ragu dengan tebakannya ini. Lalu mengapa si brengsek Laskar melakukan itu padanya?
Kemudian ia teringat satu hal, ucapan Niken yang datang ke rumahnya.
"Ini semua gara-gara Kak Niken!"
Kelopak mata Marva terbuka, dia merubah posisinya menjadi duduk dan menampilkan raut penuh tanya.
"Ada apa lagi sama cewek itu?" Tanyanya.
Vasya ikut duduk, "di pesta ulang tahun Kakak, Kak Niken ngasih minuman ke gue yang udah dicampur sama obat perangsang, mungkin gak sih Kak, Laskar ngelakuin itu karena ngeliat gelagat gue?"
"Sial nih anak," desis Marva dengan rahang yang mengeras.
"Jangan emosi, gue takut." Vasya menggenggam tangan Marva.
KAMU SEDANG MEMBACA
Different Marvasya [COMPLETED]
Teen FictionBagaimana mungkin aku dan dia akan menyatu, cara kami menyebut Sang Pencipta saja berbeda. (Marvael Arludra Grispara). Bicara tentang perbedaan, sebenarnya perbedaan itu indah, rasa ingin memiliki satu sama lain yang membuatnya terasa pedih. (Varasy...
![Different Marvasya [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/244290906-64-k480355.jpg)