Pertemuan ini bukannya mengobati rindu, tapi semakin menambah rindu hingga membelenggu.
Marvael Arludra Grispara.
Ingatkan dia padaku, tolong... sekejap saja, maka dia akan memiliki diriku selamanya.
Varasya Xiallena.
•
•
•
Pakaian serba hitam itu sudah melekat sempurna ditubuh wanita yang kini sedang berdiri di depan figura besar berisikan foto pernikahannya. Dibiarkannya air mata itu menggenangi pipi hingga lehernya, tatapannya sama sekali tak teralih dari wajah tampan sang suami yang telah lama pergi meninggalkannya.
Rasa sakit itu kembali menghantam keras-keras dada Naya, sakitnya tidak bisa dideskripsikan hingga Naya memilih memendamnya sendiri dan menangis dalam diam.
Hari ini adalah hari dimana Naya menimang bayi bertepatan kepergian Gatra yang begitu tragis, mengingat wajah lemah Gatra yang dipenuhi lebam ketika terbujur kaku di ruang operasi membuat tubuh Naya limbung ke lantai. Wanita itu menangis tergugu sambil menepuk dadanya sendiri berharap rasa sesak itu segera enyah dari sana.
"Arrghhh, enggak!" Naya berteriak histeris, menyapu vas bunga yang ada diatas meja hingga jatuh dan menyisakan serpihan yang berserakan dilantai.
"Di mana kamu, Gatra! Berani ya kamu ninggalin aku, hah! Berani-beraninya kamu pergi tanpa pamit." Naya menunjuk-nunjuk foto Gatra yang sedang menggendong boneka pokemon.
Membuka kasar lemarinya, Naya mengambil pisau lipat milik Gatra. Seringai mengerikan terbit dibibir Naya, maniknya bergerak-gerak mencari roh Gatra yang belum juga muncul.
"Ini kan, benda favorit kamu? Benda yang selalu kamu bawa kemana-mana untuk menghabisi nyawa seseorang? Aku minta sekarang kamu bunuh aku! Bunuh aku, bawa aku pergi sama kamu Gatra!" Naya berteriak seperti orang gila, mengacungkan pisau itu didepan wajahnya.
Sementara itu, Jio berdiri bagai patung di depan pintu kamar Naya yang tertutup. Tangannya tak mampu memegang gagang pintu itu karena ketakutan. Selalu seperti ini di hari datang dan perginya orang terkasih keluarga Grispara. Naya selalu mengunci diri di kamarnya.
"Bunda?" panggilnya dengan suara serak khas orang selesai menangis.
"Buka pintunya, Bunda! Ayok kita turun, kita bikin kue ulang tahun buat Marva, Bun." Jio tak kuasa bersuara lagi, ketukannya di pintu sudah melemah.
10 menit diabaikan, pintu itu mulai berdecit dan perlahan terbuka menampilkan wujud Naya yang sangat kacau. Langsung saja Jio membawa Naya dalam pelukannya, Jio kembali terisak sedangkan Naya hanya memasang wajah datar, tak mengeluarkan air matanya lagi.
"Maafin Aa, Bunda." Jio membenamkan wajahnya di bahu Naya.
Naya mengecup singkat pipi Jio, "bawa Bunda turun sayang, kita bikin kejutan buat Ava ya?"
Jio mengangguk, mengurai pelukannya dan mengusap matanya menggunakan punggung tangan. Merangkul pundak Naya dan berjalan menghampiri Gavin, Liana bahkan ada Dira, Arga, dan Feronika yang sibuk meniup balon di ruang tengah.
Hari masih petang, ini masih terlalu pagi tapi mereka sangat semangat mempersiapkan pesta ulang tahun Marva.
"Eh Naya udah bangun. Sini sayang bantu kita siapin kejutan buat Marva." Dira mengulurkan tangannya dan menyuruh Naya duduk di sampingnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Different Marvasya [COMPLETED]
Teen FictionBagaimana mungkin aku dan dia akan menyatu, cara kami menyebut Sang Pencipta saja berbeda. (Marvael Arludra Grispara). Bicara tentang perbedaan, sebenarnya perbedaan itu indah, rasa ingin memiliki satu sama lain yang membuatnya terasa pedih. (Varasy...
![Different Marvasya [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/244290906-64-k480355.jpg)