Althair menuntun Queen perlahan menuruni anak tangga dan bergabung bersama orang-orang yang duduk seraya mengaji untuk Almarhum Aghaz yang terbaring di tengah-tengah mereka. Vania dan teman-teman Queen langsung menghampiri gadis itu dan menenangkannya.
Tatapan Queen hanya tertuju pada tubuh Aghaz yang berbaring ditengah-tengah mereka. Gadis itu benar-benar seperti tidak punya tenaga. Matanya juga terlihat bengkak karena menangis. Lagi-lagi air mata Queen menetes. Acha menghapus lembut air mata Queen dan memeluknya dari samping.
"Uin harus kuat. Kita semua ada disini untuk Uin. Uin tidak sendirian kok," kata Acha menguatkan sahabatnya itu walaupun mungkin tidak memberi efek yang besar untuk Queen.
"Makasih, Cha," balas Queen mencoba tersenyum walaupun sangat tipis.
"Queen, yang sabar, ya, Nak," ucap Bu Liza duduk di dekat Queen.
"Kamu kuat, Queen. Ikhlaskan adik kamu. Doakan dia semoga tenang di sana," sahut gurunya yang lain.
"Terima kasih, Bu." Queen hanya menjawab seadanya saja.
Perhatian Queen teralihkan pada Haris yang baru datang bersama Raisa. Althair yang duduk di sebelah Queen langsung menggenggam tangan gadisnya saat merasakan tatapan Queen yang mulai menajam dan dingin.
"Sabar, jangan terbawa emosi. Om Haris berhak disini karena Aghaz anaknya," bisik Althair pada Queen.
"Anak yang dia buang dengan seenaknya," desis Queen menatap tajam Haris yang sudah duduk di sebelah jasad Aghaz.
Haris sadar sejak kedatangannya Queen langsung memberikan tatapan kebencian dan permusuhan padanya. Haris membuka kain yang menutupi kepala Aghaz. Dia kembali menangis melihat wajah pucat sang putra. Dia membungkukkan badan dan mencium pipi dan kening Aghaz.
Queen yang melihatnya merasa jijik. Jijik dengan Haris yang bersikap seolah dia adalah orang yang paling kehilangan. Padahal dulu Haris lah yang pergi meninggalkannya dan Aghaz saat mereka berdua benar-benar membutuhkan sosok seorang Ayah. Tapi lihat sekarang, semua penyesalan yang coba Haris perlihatkan padanya tidak bermakna lagi bagi Queen.
Haris kembali menutup wajah Aghaz. Pandangannya tertuju pada Queen yang langsung memalingkan muka. Dadanya kembali berdenyut sakit melihat bahwa putrinya sampai detik ini masih sangat membencinya.
Haris mendekat pada Queen lalu menundukkan kepala di depan putrinya itu seraya menggenggam kedua tangan Queen. Orang-orang yang mengaji pun langsung mengalihkan pandangan mereka pada Ayah dan Anak tersebut.
Queen hanya diam dengan pandangan ke arah lain. Tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh Haris meskipun pria paruh baya itu menangis tersedu.
"Maafin Papa, Queen. Papa menyesal sudah meninggalkan kalian. Papa menyesal, Nak. Maafin Papa."
"Setelah anda kehilangan, baru anda sadar dengan kesalahan anda sendiri?" sinis Queen. "Anda pikir dengan ungkapan maaf dan penyesalan anda, bisa mengembalikan adik saya?"
Haris terdiam masih menundukkan kepalanya dalam.
"Tidak, kan? Jadi untuk apa? Untuk apa anda mencari muka dengan cara meminta maaf seperti ini? Apa anda ingin mengambil simpati orang-orang?" tajam Queen.
Haris menggeleng. "Papa benar-benar minta maaf, Nak. Papa tau Papa salah. Papa sadar. Papa minta maaf."
Queen mengalihkan pandangannya. Air matanya kembali menetes. Rasa sesak di dadanya kembali berdenyut sakit.
"Papa janji Papa akan menjadi Papa yang baik buat kamu. Papa mohon maafin Papa, Nak. Papa sungguh menyesal." Haris masih meminta maaf. Tidak peduli jika orang-orang melihatnya. Tidak peduli dengan jabatannya lagi karena menangis dan menundukkan kepala di depan Queen seraya memohon maaf pada putrinya yang dulu dia tinggalkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALTHAIR [ END ]
Romance[ NEW VERSION! ] JANGAN LUPA FOLLOW!! *** Karena kejadian tak terduga yang menimpanya, tanpa sadar Queenzhinia Chalystha mulai dekat dengan sosok yang selama ini ia jauhi. Althair Sky Lawrence, satu nama yang begitu di segani, satu nama yang begitu...
![ALTHAIR [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/258377884-64-k902508.jpg)