"Yakin nggak mau gue tungguin aja? Udah larut banget lho."
Queen melirik Lia—manager cafenya—yang berdiri di ambang pintu ruangannya. Perempuan itu berusia lebih tua dari Queen dan satu-satunya karyawan yang paling lama bekerja di cafe tersebut. Lia sudah bekerja saat bersama Mama Queen dulu. Dan saat pergantian kepemilikan pun Lia tetap setia di cafe tersebut seraya menemani dan mengajarkan Queen ilmu yang pernah dia pelajari dari Almarhumah Mama Queen. Bagi Lia, Queen sudah seperti adiknya sendiri.
"Nggak perlu. Mbak Lia pulang aja duluan. Bentar lagi gue juga pulang. Dikit lagi selesai, kok," ujar Queen kembali berkutik dengan laptop dan beberapa buku pemasukan dan pengeluaran cafenya bulan ini.
Bukannya Queen masih belum mempercayai Lia yang sudah mengurus semua yang ada di cafenya. Hanya saja Queen ingin memastikan sendiri dengan laporan yang diberikan padanya. Ingat, hanya memastikan.
"Perlu gue buatin kopi dan cemilan nggak buat nemenin lo?" tanya Lia lagi.
Queen menggeleng. "Gue bisa ambil sendiri nanti."
Lia menghela napas. Hampir seumur hidup mengenal Queen, Lia sudah tidak terkejut lagi dengan sifat keras kepala gadis cantik itu.
"Ya sudah, kalau gitu gue pulang duluan. Kalau ada apa-apa telfon gue langsung."
Queen mengangguk. "Iya."
Lia menutup pintu ruangan Queen dan pergi. Sekarang hanya tinggal Queen sendiri di cafenya. Semua karyawannya juga sudah pulang. Membuat tempat itu begitu sepi dan hening. Queen melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul sepuluh malam lewat lima belas menit. Queen bersandar di kursinya seraya melemaskan otot-otot yang kaku karena duduk seharian.
Queen meraih ponselnya di atas meja. Melihat pesan dari Nathan yang mengatakan kalau cowok itu lagi-lagi menginap di rumahnya. Alasannya sangat tidak masuk akal, yaitu karena dia tidak kebagian ayam pedas yang dibuat ibunya saat makan malam dan memilih kabur dari rumah.
Katanya sih kabur, tapi besok pagi balik lagi ke rumahnya sambil merengek minta uang jajan.
Queen hanya membaca pesan berbasis internet yang dikirimkan Nathan padanya. Sama sekali tidak memiliki niat untuk membalasnya walaupun hanya dengan mengetikkan kata "Ya" sebagai jawaban.
Menggerakkan kursi dan berdiri, Queen berjalan keluar ruangannya menuju dapur untuk mengambil air putih karena tenggorokannya terasa kering. Queen membuka lemari khusus gelas dan menuangkan air putih lalu meminumnya.
Ting!
Queen membuka ponselnya melihat pesan yang baru masuk.
Hanya karena itu terjadi dimasa lalu. Bukan berarti itu tidak pernah terjadi.
Prang!
Queen tiba-tiba menjatuhkan gelas ditangannya. Kakinya langsung lemas dan hendak jatuh jika Queen tidak segera berpegangan pada meja disebelahnya.
Mata Queen membulat melihat pesan tersebut dengan detak jantung yang sudah berdegup kencang tak karuan. Seketika bayangan tentang masa lalu berputar dikepalanya. Membuat napasnya tiba-tiba memburu dan peluh membasahi keningnya. Tangannya seketika dingin dan tubuhnya bergetar hebat.
Tok!Tok!
Queen langsung berjengit mendengar suara ketukan. Wajahnya semakin pucat saat melihat bayangan seolah melintas didekatnya.
"SIAPA ITU!" teriak Queen. Perlahan ia berjalan keluar dari dapur. Queen memperhatikan sekitar cafenya yang gelap. Tidak ada yang aneh. Tapi kenapa dirinya tiba-tiba merasa ada yang memata-matai? Apakah ada orang yang mengerjai atau menakut-nakutinya selarut ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
ALTHAIR [ END ]
Romance[ NEW VERSION! ] JANGAN LUPA FOLLOW!! *** Karena kejadian tak terduga yang menimpanya, tanpa sadar Queenzhinia Chalystha mulai dekat dengan sosok yang selama ini ia jauhi. Althair Sky Lawrence, satu nama yang begitu di segani, satu nama yang begitu...
![ALTHAIR [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/258377884-64-k902508.jpg)