Part.65 || See You Again, My Love // END

48K 1.8K 86
                                        

"Pagi!" Althair memeluk Queen yang sedang duduk di kursi roda dengan pandangan keluar jendela kamar rawatnya, tengah melihat langit biru. Seperti biasanya, Queen hanya diam, tidak membalas sapaannya. Jangankan membalas, meliriknya saja Queen tidak lagi.

Althair berpindah posisi di depan Queen yang tetap diam pada posisinya memandangi langit, seolah tidak ada siapapun di sekitarnya.

Althair berjongkok di depan Queen dengan tatapan lekat. Ia menggenggam kedua tangan Queen di atas paha dan menyampirkan sejumput rambut Queen ke belakang telinga. Sudah beberapa hari sejak Queen sadar dari koma, sejak hari itu juga Althair tidak lagi mendengar suara Queen yang berbicara padanya. Queen tetap diam saat orang-orang bicara padanya.

"Selamat pagi, my love. Kamu sudah sarapan?" tanya Althair dan lagi-lagi tidak ada jawaban dari gadisnya.

"Aku bawa makanan kesukaan kamu. Sarapan dulu, yuk." Althair berdiri, berjalan ke belakang kursi roda Queen dan mendorongnya ke sofa. Althair duduk di sofa, membuka bekal yang sudah ia siapkan. Mbok Eem memasak makanan kesukaan Queen, berharap Nona mudanya itu cepat sembuh. Hanya ini yang dapat Mbok Eem lakukan walaupun tidak seberapa.

"Aku suapin, ya." Althair dengan lembut menyuapkan Queen. Sendok yang dipegangnya mengarah pada mulut Queen.

"Ayo, kamu harus sarapan dulu sebelum memulai aktivitas pagi ini. Supaya nanti lebih semangat."

Perlahan Queen membuka mulutnya menerima suapan Althair. Tangan Althair mengusap kepala Queen lembut dengan senyum di bibir. Walaupun Queen tidak bicara padanya, namun Queen tidak pernah menolak hal yang ia lakukan.

Tatapan Althair lekat pada Queen. Seketika ingatannya beberapa hari yang lalu kembali memenuhi isi kepalanya. Tentang pembicaraannya dengan Queenara.

"Gue akan bawa Queen sama ke Inggris."

Malam itu di taman rumah sakit, Queenara dan Althair duduk di kursi besi. Queenara duduk tegap dengan menyilangkan kakinya dan pandangan menatap langit malam. Awan hitam tampak menyembunyikan bulan yang ingin bersinar. Sedangkan Althair duduk dengan posisi badan sedikit bungkuk dan kedua tangan bertumpu di paha. Dia sudah mendengar hal ini namun rasanya masih sangat sulit untuknya.

"Queen akan lebih aman sama gue. Gue bisa lebih menjaganya." Queenara menoleh pada Althair yang sejak tadi hanya diam. Perlahan, Queenara menghela napas.

"Bukan maksud gue buat misahin kalian berdua lagi. Tapi lo tau, kan, situasinya sekarang? Jika Queen tetap di sini maka dia nggak akan sembuh dari traumanya. Karena di tempat ini semua masalah terjadi padanya."

Queenara menghela napas dan bersandar di kursi. "Gue tau ini berat buat lo. Demi kesembuhan Queen, gue harap lo ngerti. Kalau lo emang cinta sama Queen, lo pasti lebih mementingkan kesehatan dan kebahagiaannya daripada ego lo yang ingin tetap bersamanya. Ingat, Al. Sebuah cerita tentang cinta nggak selamanya harus berakhir happy ending. Terkadang sad ending juga merupakan jalan terbaik dari sebuah hubungan."

Althair memejamkan mata dan semakin menundukkan kepala mendengarnya.

Queenara lalu berdiri dengan kedua tangan dalam saku celana. "Beberapa hari ke depan gue akan izinin lo buat terus sama Queen, sebelum gue bawa dia pergi dari negara ini."

Althair menghela napas sembari memejamkan mata, menghilangkan sejenak percakapannya dengan Queenara yang semakin membuatnya dilema. Kini tatapannya lekat pada wajah Queen. Menatap setiap inci dari wajah gadisnya untuk di simpan di memori dan hatinya yang paling spesial.

"Kamu cantik banget sih," ujar Althair mengusap wajah Queen lembut.

"Sayang, apa kita emang nggak di takdirkan untuk bersama? Kenapa kita selalu berpisah? Padahal, aku ingin tetap bersama kamu. Aku ingin menebus kesalahan aku dan menepati janjiku untuk selalu bersama kamu dan membuat kamu bahagia. Tapi selalu ada hal yang membuat kita harus memilih antara bertahan atau melepaskan."

ALTHAIR [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang