Part.14 || Hukuman Massal

49.6K 2.7K 4
                                        

"Makanya, Queen, gue kan udah sering bilang buat belajar beladiri. Paling enggak silat lah yang punya ilmu kanuraga dan tenaga dalam supaya lo nggak kenapa-kenapa saat dipukul. Dan juga, ya, lo tuh harus—"

Pletakk!!

Saat itu juga Nathan berhenti bicara. Menoleh pada Queen yang barusan menjitak kepalanya tanpa belas kasih. Padahal mereka sekarang berada di sekolah. Bisa malu sampai ke anak, cucu, dan cicitnya nanti kalau seorang playboy ganteng yang berkelas seperti dirinya dijitak sepupu sendiri didepan umum.

"Lo bisa diem nggak? Ngoceeeehh mulu dari tadi. Mending lo bantuin gue dengan benar! Kaki gue masih sakit!" ujar Queen mulai emosi menghadapi sikap gila Nathan.

Lihat saja, dari tadi Nathan sepertinya memang tidak berniat untuk membantunya berjalan sama sekali. Saat Queen meletakkan tangannya dipundak Nathan dengan maksud agar cowok itu membantunya berjalan, Nathan malah jalan seenaknya sambil bersedekap. Mencoba memperlihatkan pada orang-orang kalau Queen benar-benar sangat membutuhkan cowok gila ini.

Pagi-pagi Queen langsung disambut dengan tingkah Nathan yang benar-benar menguji kesabaran.

"Lo denger nggak apa yang gue omongin tadi?"

"Nggak denger!" Queen menatap tajam Nathan agar cowok itu tidak berulah lagi. "Lebih baik lo cari pahala dengan bantuin gue. Sekarang masih pagi, jangan jadi buaya dulu. Mata langsung jelalatan lihat cewek cantik."

"Ini tuh namanya mengagumi ciptaan Tuhan, Queen," ujar Nathan membela diri. "Lagian masih menjadi misteri, sih. Padahal buaya adalah makhluk paling setia sama pasangannya. Tapi kenapa cowok-cowok yang memuji keindahan makhluk Tuhan yang berjenis kelamin perempuan langsung di cap buaya dengan gampangnya?"

"Kalau buayanya di air ya setia. Tapi kalau lo buaya darat!"

"Apa bedanya? Kan, sama-sama buaya. Cuma beda tempat mereka menetap."

Queen menggelengkan kepala seraya memejamkan mata.

"Stop, ya. Ini masih pagi dan please jangan buat gue makin frustasi karena lo!" ujar Queen mulai jengah mendengar setiap kata yang keluar dari mulut playboy cap badak ini.

"Lah, gue cuma ngomong, Queen."

"Nggak usah ngomong makanya!"

Nathan mengelus punggung Queen dengan tampang iba. "Sabar cantik. Jangan marah-marah, masih pagi. Ntar cepet tua terus keriput. Nggak ada ntar yang mau sama lo. Gue nggak mau ya lo jadi perawan tua. Paling enggak lo dapat Dion lah. Ya nggak, Yon? Woy! Queen nitip salam. Katanya, pagi Dion!" ujar Nathan menahan seorang cowok berbadan gempal yang barusan lewat diaampingnya.

Dion lantas melihat Queen dengan senyum mengembang. "Bener, Queen? Lo nitip salam buat gue?" tanyanya memastikan.

Queen menghela napas. Menggerakkan tangannya menyuruh Dion pergi dari hadapannya.

"Sana lo," ujar Nathan mengusir Dion. Dengan berat hati Dion pergi. Nathan pun langsung tertawa. "Percaya aja tuh orang. Hedehh.... Emang jahat sih lo, Queen."

"Jahat kenapa?" Kening Queen terlihat berlipat tanda bingung.

"Ya lo jahat. Dion tuh suka sama lo. Malah nggak lo anggap," ujar Nathan sok iba padahal dalam hati dia senang melihat wajah cemberut Dion yang ditolak mentah-mentah oleh Queen. "Julukan yang cocok buat cewek yang nolak banyak cowok apaan, ya?"

"Gue nggak nolak—"

"Alah! Munafik! Mana ada lo nggak nolak? Perlu nih gue ingetin lagi? Gue masih punya daftarnya nih dikepala gue. Siapa-siapa aja yang lo tolak dari zaman kita SD sampe sekarang!"

ALTHAIR [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang