Part.10 || Tantangan Untuk GRIXEN

60.3K 2.9K 7
                                        

"MAAAKK! EMAAAKK! PESEN MI REBUS SATU YAAAA!!"

Azam langsung berseru pada wanita berbadan gemuk dengan pakaian daster yang sedang mengelap meja dan merapikan piring-piring bekas makan.

"Saya juga Mak! Mi rebus pake telor sama es teh manis!" sahut Lugas duduk di salah satu kursi plastik.

"GPL YA MAK!" ujar Azam dan Lugas serentak.

Emak langsung memperlihatkan jempolnya sebagai tanda "Siap" pada Azam dan Lugas. Bukan hanya mereka, anak-anak Grixen yang lain juga ke warung Emak, tempat dimana mereka selalu nongkrong dan berkumpul sepulang sekolah. Sehingga warung yang tadinya sepi sekarang sudah ramai dan rusuh oleh anak-anak Grixen.

Warung Emak terletak dibelakang sekolah, tidak besar dan terlihat sederhana. Tidak mewah memang, bahkan kantin sekolah mereka lebih bagus dari pada warung Emak. Tapi satu hal yang mereka rasakan saat berkumpul bersama di warung sederhana itu; Kebersamaan. Di tempat sederhana itu mereka bisa melupakan sejenak masalah yang menghampiri. Berkumpul dan berbagi cerita satu sama lain.

Dibagian pojok dekat dinding, Althair duduk dengan ponsel ditangannya. Disampingnya Sangga duduk dengan gitar dipangkuan. Cowok itu hanya memetik senar gitar tanpa berniat bernyanyi.

Ghali duduk tak jauh dari Althair dan Sangga. Cowok itu mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya dan mengambil sebatang, mengapitnya di bibir dan membakar ujungnya dengan korek. Asap kemudian mengepul dari mulut dan hidungnya.

"Mau?" tawar Ghali pada Althair yang dibalas gelengan oleh cowok itu.

Althair meletakkan ponselnya diatas meja. Menoleh kearah pintu dimana Tristan dan Anhar baru datang bersama teman-temannya yang merupakan anggota inti Grixen angkatan 6.

"Tha," sapa Tristan seraya bertos dengan Althair dan langsung mengambil tempat di dekat cowok itu.

"Ghal, rokok dong," ujar Tristan menunjuk bungkus rokok Ghali diatas meja.

"Beli dong! Kan, ketua tertinggi! Masa nggak punya duit," ujar Ghali namun tetap memberikan rokoknya pada Tristan.

"Bacot lo! Ntar gue beli! Awas lo minta."

Ghali mengeluarkan ponselnya. Membuka aplikasi game online dan mulai fokus bermain. Tidak peduli lagi ocehan Tristan padanya.

"Kayak anak kecil lo berdua," ujar Anhar menggelengkan kepala melihat perdebatan Tristan dan Ghali seraya bersedekap.

"YAYANG SAMAN—"

"Mundur lo. Mundur," ujar Samantha pada Azam yang hendak mendekat padanya. Mengarahkan sebuah tongkat baseball yang selalu dia bawa tepat didepan wajah Azam. Otomatis membuat cowok itu mundur perlahan.

Orang-orang yang melihat Azam ciut didepan Samantha langsung tertawa. Sudah tahu Samantha adalah singa betinanya Grixen, cowok itu tidak juga kapok mengganggunya dengan sebutan aneh dan jijik yang selalu dia lontarkan pada Samantha.

"Mundur aja lo, Zam! Singa betinanya Grixen jangan lo lawan! Ntar K.O baru tau rasa!" ujar Lugas disela-sela tawanya.

"Kalau Thalita lihat pasti kecewa banget itu, Zam," ujar Haikal juga tertawa. "Lo godain cewek lain selain dia."

"Waduh, bisa ditalak ane sama neng Thalita. Ampun, Sam, ane khilaf tadi. Ane cuma setia sama neng Thalita seorang. Suer!" Azam menunjukan kedua jarinya yang membentuk huruf V ditambah menunjukkan cengirannya membuat Samantha mendengus.

"Alah, alesan! Setiap cowok yang deket sama cewek lain pasti kata-katanya khilaflah, apalah. Pada nggak nyadar, ya, kalau sebenarnya mereka tuh fakboy!" ujar Theresa yang berdiri disebelah kanan Samantha.

ALTHAIR [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang