atas nama cinta, 1

13 5 0
                                    

ketika aku meninggalkan tulang
belulang dan wajahku yang pucat.
puisi menjadi bahasa terakhir
yang lahir dari jemari kuningku.
yang jujur perihalku mencintaimu
tidak mengenal ujung waktu.
yang mengusap helai rambutmu
ketika tiada lagi aku.

ketika aku melepas satu per
satu tubuhku, aku ingin dadamu
di telingaku. aku ingin mendengar
degupmu sekali lagi, sebelum
dadaku menyatakan keheningan.

...

(Selengkapnya bisa dibaca dalam buku "Yang Tumbuh dari Kesepian")

Yang Tumbuh dari KesepianTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang