awan memayungi tubuh tabah yang linglung
didera kabar dari jauh.
titik-titik air menyamarkan
warna lazuardi, kecuali air rindu
yang bermuara di dagu.
—kita belum sempat bertemu.malam yang lebih pekat dari aroma
robusta menemani carut-marut isi kepala.
semuanya lebur, kecuali rindu yang
bergelung di pelupuk mata.
—kau belum sempat bertamu.aku menyaksikan gerimis menggumamkan
lagu penenun rindu yang kautulis hari itu.
air di tubuhku menenggelamkan segalanya;
puisi, kenangan, senyuman, juga kopi hitam.
yang menyembul hanyalah
doa-doa keselamatan.jarak membabat habis nalar. merangkak
menembus jantung yang penuh khawatir.
di depanku, nurani menelanjangi dirinya
sekali lagi. sebab aku begitu menyayangi,
aku begitu ingin kau di sini.(2021)

KAMU SEDANG MEMBACA
Yang Tumbuh dari Kesepian
PoetryTELAH TERBIT mencintaimu adalah mencintai takdir biarpun harus kehilangan. mencintaimu adalah mencintai kegamangan di dasar diriku yang paling kelam. namun, kepadamu aku selalu tumbuh, duduk, dan menetap. -j.j. ehak | @ruangehk