TELAH TERBIT
mencintaimu adalah mencintai takdir biarpun harus kehilangan. mencintaimu adalah mencintai kegamangan di dasar diriku yang paling kelam. namun, kepadamu aku selalu tumbuh, duduk, dan menetap.
-j.j. ehak | @ruangehk
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
J.J. Ehak
—nama pena dari seorang perempuan yang kerap disapa Jeje, adalah musuh bebuyutan ikan lele beserta antek-anteknya, termasuk kamu jika punya kumis macem lele (bercanda sayang). Lahir di Fajar Bulan, 27 Mei tahun genap pukul sepuluh pagi. Dibesarkan di tanah kelahirannya, Lampung Barat.
Selain senang memelihara kegalauan, ia juga senang memelihara kucing. Tidak jarang di gawainya banyak ditemukan foto kucing daripada foto dirinya sendiri. Yaaa namanya juga bucing, bisa apa.
Jeje menyukai puisi sejak diberi tugas menulis puisi oleh guru Bahasa Indonesia di sekolahnya saat itu dan serius menulis setelah diseriusi seseorang yang ternyata enggak seserius perkataannya. Patah yang enggak berdarah tetapi kerasa krenyesnya itu membuat ia rajin menulis puisi bertema patah hati yang lama-lama menjadi ciri khasnya.
Tulisannya termuat dalam beberapa antologi yaitu Aksara Rindu (2020), Saudade (2020), 1000+ Alasan Menulis Setiap Hari (2020), Setapak Hitam Putih (2021), Doa Wanita Sibuk untuk Kekasih Jauhnya (2021).
Buku tunggalnya yang telah terbit yaitu Kota yang Kehilangan Kita (Vamedia Publihing :2021), dan Yang Tumbuh dari Kesepian (Vamedia Publishing: 2022)
Jeje bisa disapa melalui: Instagram : @ruangehak Wattpad : @ruangehak Facebook : Jeje Blog : ruangehak.blogspot.com Surel : jj.ehak@gmail.com