56

1.3K 225 21
                                        


Rose membuka matanya dan hal pertama yang ia lihat adalah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 siang.Rupanya ia tertidur setelah mengobati luka punggung Jimin.Ia tidak melakukan apapun semalam,namun mungkin karena tingkat stress yang begitu tinggi hingga ia bisa bisanya tertidur dan baru bangun nyaris sudah tengah hari.

Harum makanan dari luar membuatnya tidak sabar untuk turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar.

Ia nyaris tidak mempercayai matanya sendiri ketika melihat Jimin memasak di dapur minimalis miliknya.Sebenarnya melihat sosok Jimin yang beberapa jam lalu baru saja menggunakan pistol dan pisau dengan terlalu lihai kini berdiri sambil memotong wortel dengan menggunakan celemek masak milik Rose,adalah pemandangan yang sangat tidak cocok.Ia seperti potongan puzzle yang berbeda merk yang dipaksakan untuk melekat disana.

"Aku tidak tahu kau bisa memasak"

"Benarkah?Aku sendiri tidak tahu jika aku bisa memasak,tiba tiba aku memotong semua bahan bahan makanan ini dan menyatukannya dalam panci.Setelah aku coba, ternyata rasanya lumayan"

Rose buru buru mengambil sendok dan mencoba sup buatan Jimin.Ia langsung menatap pria itu dengan tatapan kagum yang tidak bisa ditutupi lagi.Ia mengacungkan kedua jempol nya.

"Ini enak sekali!Ini bahkan lebih enak daripada sup buatan juru masakmu,10x lipat lebih enak!!"seru Rose,ia lalu mencoba ayam goreng buatan Jimin.

Ia memakan nya dan menatap Jimin seolah olah pria itu adalah alien.

"Bagaimana dengan ayam goreng buatan ku?"tanya Jimin.

"Apa kau ingin mencoba membuka restaurant atau semacamnya?Aku jamin restaurant mu akan laku keras jika masakannya enak seperti ini!"ujar Rose bersungguh sungguh.

Kemudian ia mengingat masakan masakannya berapa hari terakhir ini yang ia sajikan untuk Jimin.Mendadak ia merasa malu setengah mati, rasanya ia baru saja mempermalukan dirinya sendiri.

"Pasti kau berusaha keras sekali untuk menghabiskan makanan buatanku beberapa hari terakhir"gumam Rose lesu.

"Aku bukan orang yang cerewet tentang makanan,jadi aku akan menikmati semua makanan tanpa banyak mengeluh"ujar Jimin sambil meletakkan piring kosong dihadapan Rose,bahkan menyajikan nasi putih ke atasnya.

"Anggap saja ini sebagai permintaan maaf ku karena membuatmu ketakutan semalam"ujar Jimin lembut.

"Kau sudah memperingatkan ku,aku juga sudah memperingatkan diriku sendiri, maksudnya...ini bukan kali pertamanya aku menyaksikan hal menggerikan seperti itu,tapi aku sendiri tidak mengerti mengapa setiap kali aku melihatnya,aku akan ketakutan seperti orang bodoh"

"Itu bukan bodoh,Rose.Itu normal, berarti kau orang normal"

"Jimin--"

"Dan semalam aku pun menyadari jika aku ini tidak normal"

"Kenapa kau bisa mengatakan hal seperti itu?"

"Karena aku sama sekali tidak merasakan apa yang kau rasakan,aku tidak mengingat apapun soal masa laluku,tapi aku sama tidak takut apabila menembakkan pistol itu.Aku bahkan tidak merasa khawatir, jantung ku bahkan tidak berdetak lebih kencang dari biasanya, bukankah itu jelas menunjukkan jika aku ini tidak normal?"

"Aku tidak peduli bahkan jika apa yang kau katakan itu benar"ujar Rose lalu memulai makan siangnya.Jimin menarik kursi dan duduk dihadapan Rose.

"Makanlah, setelah itu kita harus membicarakan soal kita"

"Soal kita?"

"Ya,soal kita"

*****
Makanan seenak apapun akan berubah tidak enak jika mengetahui sesudah makan,akan ada pembincangan super serius yang akan dibicarakan.

Rose menghabiskan suapan terakhirnya dan duduk menatap Jimin dengan seribu tanda tanya di wajahnya.

"Aku butuh waktu untuk berpikir"ujar Jimin.

"Memikirkan apa maksudmu?"

"Aku tidak mengingat apapun dari masa laluku,aku memang sama sekali tidak meragukan cerita darimu dan Taehyung tentang masa laluku,tapi cerita kalian pasti tidak akan pernah menggantikan bagaimana diriku sebenernya dulu.Aku ingin menemukan kembali diriku"

"Lalu?Apa yang bisa aku bantu?"

"Berikan aku waktu untuk menemukan diriku sendiri,dan jika aku tidak bisa menemukan diriku yang lama,maka biarkan aku menata kembali siapa diriku saat ini"

"Kau tidak ingin kau menemanimu?"tanya Rose dengan wajah sedihnya.

"5 bulan mungkin,tolong berikan aku masa untuk merenggangkan pikiran ku, setelah 5 bulan aku akan memberi jawaban ku terhadap masa depan kita berdua"

****
Rose hanya bisa terdiam membisu di depan pintu kamarnya sementara Jimin mengemasi barang barangnya yang memang tidak begitu banyak.Ia memang tidak bisa berbuat apapun selain mendukung keputusan pria itu untuk menenangkan dirinya dan mencari suara hatinya yang sebenarnya.

"Kau akan pulang kembali ke rumahmu?"

"Tidak,aku akan pergi sendiri menghabiskan waktu dengan diriku sendiri"

"Pergi?Pergi kemana?Aku tidak akan mengganggu mu tapi tolong jangan rahasiakan kemana kau akan pergi"

Jimin tersenyum pahit.

"Italia,aku akan pergi Italia"

"I-italia?Negara Italia di Eropa itu?Kenapa tiba tiba kau pergi kesana?"

"Entahlah,aku hanya melihat nama nama negara di peta dunia dan aku tertarik pada Italia lalu aku memutuskan untuk pergi ke sana"

"Ponsel akan aktif bukan?"

"Ponselku akan aktif,tapi aku rasa sebaiknya kau tidak menghubungi ku kecuali kau ada dalam situasi hidup dan mati.Karena aku tahu tujuan awal aku pergi kesana adalah untuk menenangkan diri bukan?"

Rose mengangguk,ia seperti sedang dinasehati oleh dosen sementara pada kenyataannya ialah yang menasehatinya itu adalah suaminya sendiri.

"Lalu bagaimana jika aku merindukanmu?"gumam Rose sambil menunjukkan kepalanya.

Jimin menatap Rose beberapa saat lalu berjalan menghampirinya.Dengan lembut ia menarik wanita itu kedalam pelukannya.

"Aku rasa,aku akan merindukan mu juga.Semakin kita merindukan satu sama lain, semakin banyak cinta yang akan kita rasakan,ketika akhirannya kita bertemu kembali"

"Entah bagaimana aku bisa menjalani hari hariku selama 5 bulan ini, bagaimana jika anak ini lahir dan kau tidak ada disamping ku? Bagaimana jika kau mengambil keputusan yang aku takutkan? Bagaimana jika kau meninggalkanku?"ujar Rose sambil menatap perut buncitnya.Kandungannya sekarang sudah empat bulan.

Jimin tidak langsung menjawab pertanyaan Rose,pria itu hanya tersenyum penuh arti dan memeluk Rose erat erat.

****
Rose benci perpisahan, apapun bentuknya, apapun alasannya, apapun tujuannya.Namun setiap perpisahan yang ia alami dalam hidupnya,tidak pernah bisa ia hindari.Ia mengantar Jimin sampai ke bandara.Taehyung sudah menunggu Jimin disana dengan koper berisi barang barang dan paspor milik Jimin.Wajah Taehyung jelas tidak menunjukkan jika ia setuju akan keputusan Jimin untuk pergi jauh dan selama itu.Namun sama seperti Rose, Taehyung pun benar benar tidak hak dan kemampuan untuk menahan Jimin.

"Aku akan menjaga bisnis agar tetap berjalan baik,tapi kau harus kembali jika ada hal penting dan urgen yang terjadi"

Jimin menganggukkan kepalanya pada Taehyung.Kemudian ia mengalihkan tatapannya pada Rose.

"Aku harap kau menjaga dirimu dengan baik.Jangan lakukan hal yang aneh aneh,aku tidak mau kau dan calon anak kita terluka nanti karena aku tidak ada disamping mu"

Rose hanya mengangguk pelan.Rasanya hari ini sangat buruk.

"Kabari aku jika kau sudah sampai,aku tidak akan mengganggumu tapi tolong beri kabar sesekali agar aku tidak berpikir yang bukan bukan"seru Rose.

Panggilan boarding yang terdengar memaksa Jimin untuk buru buru berdiri dan melambaikan tangannya sambil berjalan masuk ke lorong penerbangan.

Rose menatap punggung Jimin yang perlahan memudar dari pandangannya dan bersiap untuk mengahadapi 5 bulan perpisahan antara dirinya dan juga pria yang ia cintai.






CONTINUE~

Into You [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang