"Terkadang perbedaan menumbuhkan rasa tidak percaya diri bahkan rasa dengki"
_Reyhan Arsenio Ghazanvar_
Happy Reading
***
Rintik hujan menyapa bumi, tanaman bersukacita menerima rahmat Sang Maha Kuasa, gemercik air terdengar berulang kali, gemuruh guntur bersautan sesekali kilatan cahaya mengejutkan.
Berdiri dengan kepala menunduk remaja 15 tahun itu tak berani berteduh, meski sang kakek tak mengawasi tetap saja kayu bisa menjadi mata, bisa dipastikan konsekuensinya akan semakin buruk.
Setelah melawan terik mentari kini rinai hujan tak mau kalah, keringat yang awalnya melekat dibasuh sang hujan.
Kulit putih pucat pasi, bibir tipis merah muda mengigil kedinginan, tanpa payung tanpa jaket ia berdiri sekuat tenaga.
Mata indahnya memerah meneteskan air mata tersamarkan alunan tangis semesta, tak berteriak tak bersuara ia membiarkan lelehan air mata menerobos pertahanan.
Pedih yang dirasa, banyak yang ia perjuangkan namun belum membuahkan hasil, rasanya ingin berhenti tapi belum seberapa. Tangisannya kian pilu, merutuki diri sendiri yang begitu bodoh.
Mengapa ia bisa begitu bodoh, belajar sudah ia prioritas kan namun mengapa hasilnya tidak memuaskan.
"Bodoh! Reyhan bodoh! Kapan kamu bisa pintar hah!" pukas Reyhan pada dirinya sendiri.
Ingin buktikan ia juga bisa seperti Alfian, pintar dan berprestasi lalu Kakek akan berhenti menghukum, sindiran pedas nenek tak lagi ada, dan mama papa akan menyayanginya seperti Alfian.
Namun, ia tidak bisa ia terus menerus gagal, apa usahanya masih belum maksimal? Dimana letak permasalahannya?.
"Kenapa sulit?" lirihnya pilu teredam bunyi hujan.
Denting garpu memenuhi meja panjang dengan tata tempat yang elegan, menyantap makanan di depan mata, khidmat. Melupakan seorang yang basah kuyup di luar sana.
"Dimana Reyhan?" ujar wanita termuda tanpa menyentuh makan malamnya.
Seakan tuli mereka tetap melanjutkan makan tanpa terganggu dengan tanya yang dilontarkan. Berbeda dengan Alfian yang baru menyadari tak ada sang adik diantara kehangatan makan malam keluarga.
Wanita yang telah ditinggal sang suami akibat kecelakaan maut itu kembali membuka suara.
"Dimana Reyhan, Papi?"
"Berdiri di luar sampai kita selesai makan malam, itu hukumnya" jawab Garendra menatap sang putri tanpa adanya raut sesal.
"Apa?!" sentak wanita itu terkejut.
Jadi sejak tadi keponakannya itu sedang di hukum, tapi atas dasar apa.
"Alasan apa lagi sekarang? Papi tidak bosan selalu menghukum anak kecil yang sejatinya dia cucu papi sendiri" berang Aliza menuntut.
"Nilai anak itu jelek sekali, jadi wajar dia mendapat sedikit pelajaran agar berhenti bermain-main tidak jelas, toh ini untuk kebaikan dia juga" timpal Fannia merespon putrinya.
"Kebaikan macam apa Mi, Reyhan tidak seharusnya di perlakukan seperti ini!" tandas Aliza berapi-api.
Tak habis pikir hanya perkara angka orang-orang ini rela memperlakukan si bungsu sesadis itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tak Satu Arah [Selesai]
RandomSeutuhnya permainan Dunia tidak ada yang tahu, 'dia' hadir dalam artian berbeda. Kasih sayang yang setara adalah sebuah angan berharga yang sampai kini belum ia dapatkan. Hukuman, kemarahan, terabaikan bahkan di salahkan menjadi makanan sehari-hari...
![Tak Satu Arah [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/310633345-64-k586575.jpg)