Extra Spesial 5

4.4K 143 11
                                        

"Akhir, terlepas, dan terhempas."






"Bukankan mentari kan tengelam? Bukankah fajar kan menjadi senja? Bukankah bunga akan layu? Dan bukankah hujan akan mereda?"

_Reyhan Arsenio Ghazanvar_








Happy Reading

***



Raga kokoh orang-orang dewasa itu terhantam hingga rasanya tidak mampu lagi berdiri tegak, kesadaran serasa di ambang batas, ingin rasanya menghilang dari kabar tak menyenangkan dini hari ini. Rintihan pedih tak bisa mereka tutupi, derai air mata menjadi jawaban seberapa hancur hati mereka saat ini.

Di dalam ruangan tertutup rapat itu di isi dua orang remaja berbeda jenis yang tengah terbaring lemah tak sadarkan diri, di tangani oleh tenaga medis mereka senantiasa menunggu dengan debar jantung yang tak menentu.

Di malam menjelang pagi ini mereka semua dihantui ketakutan yang luar biasa, dua orang yang begitu di sayang sekarang dalam kondisi yang memprihatinkan. Masih teringat jelas darah melumuri wajah sepasang remaja tersebut, di tambah denyut kehidupan yang kian melemah.

Kecelakaan di persimpangan lampu merah menjadi alasan terbarinnya sepasang remaja di dalam sana, kendaraan yang kedua remaja itu naiki hancur tak berbentuk.

"Aku, takut. Sangat takut" gumam Alfian meremas jemarinya.

Dia menunduk dalam linangan air mata, entah mengapa hatinya tak bisa tenang, ketakutan akan hal yang mengerikan berputar dalam kepalanya.

"Reyhan akan baik-baik saja, dia bisa bertahan sampai detik ini dan aku yakin dia tidak akan menyerah. Begitupun Clarissa, gadis bar-bar itu bukan orang lemah" ucap Alara menenangkan meskipun ia sendiri ragu.

Gadis itu merangkul pundak kekasihnya, ia paham sedihnya ketika melihat orang yang di sayang terbaring tak berdaya tanpa bisa melakukan apapun.

"Khai...." lirih Sandra menggenggam erat tangan sang suami.

"Reyhan, gak akan ninggalin aku kan? Anakku akan baik-baik saja kan?" cecar Sandra menatap suaminya berkaca-kaca.

Khaisan tak langsung menjawab, dia menatap lamat-lamat pada tangan yang masih meninggalkan bercak darah sang Anak yang telah mengering. Dua jam mereka menunggu tapi belum ada kabar apapun yang mereka terima.

"Dia harus selamat, aku tidak mau kehilangan anakku. Aku sangat menyayanginya, di tak boleh pergi" Khaisan meyakinkan diri bahwa anak yang selalu ia banding-bandingkan juga kasari tak akan pergi jauh lagi.

"T-tapi darahnya, mereka berdua.... Aku takut.... Reyhan adalah kesayangan ku, seseorang yang aku perjuangkan mati-matian. Tapi, dia..... dengan darah yang bahkan aku sampai tidak mengenali wajahnya." Sandra kesulitan merangkai kalimatnya.

Kesedihan, cemas, dan khawatir bersatu menjadi satu.

"Kenapa harus Clarissa Daddy! Bagaimana jika dia seperti Kak Niel" Nathan berdiri mondar-mandir di depan ruang UGD. Sudah cukup kakak pertamanya yang pergi jangan adiknya juga. 

"Clarissa..." Tania melirih pedih di hatinya.

Tak sampai di sana rasa cemas yang dua pihak keluarga korban lakalantas tersebut. Decitan pintu bersama derap langkah tiga orang perawat yang nampak tergesa-gesa meningkatkan kadar resh di hati mereka.

Bertanya pun tak menuai jawab sebab si perawatan hanya diam dan masuk ke ruang pesakitan tersebut.




🌧️🌧️🌧️



Tak Satu Arah [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang