Extra 4 Sedalam samudra

4.2K 159 28
                                        

"Semuanya telah rangkum dalam akhir yang telah usang."

_Reyhan Arsenio Ghazanvar_









Happy Reading

***





Perjalanan yang hebat menghantarkan pada tantangan yang berat, entah itu itu berupa pengorbanan, perpisahan, atau bahkan kehilangan. Kuat tidak kuat di tuntut untuk berjuang meski harus di jungkir balik oleh keadaan.

Tangis dan tawa silih berganti mewarnai tiap jengkal yang dipijaki, banyak pelajaran hidup yang diambil dari apa yang telah terjadi. Lewat senandung sederhana petikan arti keluarga ia temui.

Dia, si pemilik sebagai besar kisah usang ini, telah kembali setelah enam tahun melangkah pergi. Kedatangannya tak di sambut meriah dengan gelaran pesta atau sorakan gembira, justru karangan bunga berisi kalimat turut berdukacita menjadi suguhan penyambutan di halaman rumah.

Padahal hati sudah ia mantapkan untuk kembali pulang, segala luka telah ia sembuhkan, tapi mengapa Isak tangis kehilangan yang hadir tepat di hari ia kembali memasuki rumah yang telah lama ditinggalkan?

"Bagaimana kabar kamu Rey?  Selama di sana kamu tidak mengalami kesulitan kan?" tanya Khaisan membuka pembicaraan di tengah keheningan.

"Reyhan" panggil pria itu kala sang anak hanya diam dengan sorot kosong.

Anak muda itu masih tak memberi respon, "Reyhan kamu kenapa? Reyhan kamu dengar Papa!"

Cowok itu tersentak ling lung, sebelum menghembuskan napas dalam.

"Kamu kenapa? Sakit?" Sandra menatap putranya cemas.

"Enggak pa-pa, Reyhan ke atas duluan."

Namun, cegahan dari seorang wanita membuat ia mengurungkan niat pergi ke kamarnya. Ia menatap wanita yang kini telah membangun kehidupan rumah tangga yang baru. Dari apa yang ia lihat sepertinya wanita yang ia panggil Tante itu hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.

"Ta-tante ingin bicara sama kamu, hmm... itu pun kalau kamu tidak keberatan" gugup Aliza memainkan jemarinya kala keponakannya hanya diam dengan tatapan tidak terbaca.

"Apa yang mau Tante bicarakan?" respon Reyhan setelah membisu beberapa saat.

"Terkait problem diantara kita yang belum terselesaikan enam tahun yang lalu" Aliza lantas berpindah duduk di samping remaja yang kembali bungkam setelah ia menyampaikan topik perbincangan.

"Reyhan, Tante sadar telah sangat  mengecewakan kamu. Mempermainkan kepercayaan kamu, meracuni pikiran kamu agar membenci kedua orang tuamu, membuat kamu dipandang buruk oleh orang-orang, bahkan Tante sempat mencelakai kamu. Tante tidak akan membela diri karena memang semua itu kesalahan Tante sendiri."

"Kamu berhak marah bahkan membenci Tante sekalipun. Perbuatan Tante memang sudah keterlaluan, dan Tante ingin meminta maaf untuk segala kesalahan yang Tante perbuat" tutur Aliza dipenuhi rasa bersalah dalam hatinya.

Sementara pemuda yang diajak bicara terlihat tak nyaman dengan topik pembahasan. "Kenapa dibahas lagi sih?"

"Karena masalah kita masih menggantung tanpa penyelesaian" balas Aliza lugas.

Puncak permasalahan enam tahun yang lalu belum memiliki titik penyelesaian yang pasti, meskipun ia telah meminta maaf dan menyesali perbuatannya tapi tak ada satu kali pun terucap bahwa permintaan maafnya di terima. Reyhan hanya diam waktu itu.

"Tante tidak bisa mengembalikan kebahagiaan yang harusnya dulu kamu dapatkan, semua kesedihan dan kekecewaan kamu tidak mampu Tante hapuskan. Tante hanya bisa meminta maaf atas apa yang terjadi, Tante mohon maafkan Tante, Reyhan" ucap Aliza meraih tangan keponakannya.

Tak Satu Arah [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang