Extra 3 Come and go

3.5K 178 12
                                        

"Yang datang mungkin akan pergi dan yang telah pergi belum tentu bisa kembali."

_Reyhan Arsenio Ghazanvar_




Happy Reading

***





Pagi-pagi sekali kediaman sebuah keluarga dihebohkan oleh sang tetua yang tiba-tiba mengalami sesak napas, pria tua itu bahkan sampai tak sadarkan diri akibat kesulitan bernapas. Tanpa banyak berdiskusi para anggota keluarga membawa sang sesepuh ke rumah sakit terdekat.

Sekian  1 jam mereka menunggu salah seorang dokter yang tengah menangani kondisi pria tua itu, tapi belum ada konfirmasi terkait kondisi sang pasien. Doa mereka panjatkan kehadapan Sang Pencipta, berharap seseorang di dalam sana baik-baik saja.

Raut cemas tegambar jelas di wajah seorang remaja juga dua paruh baya yang kini duduk berdampingan di kursi tunggu. 

"Kak Khaisan!"

Khaisan mengangkat wajah menatap seorang wanita berjalan kearahnya dengan menggendong anak berusia tiga tahun. Pria itu lantas berdiri diikuti sang istri.

"Bagaimana kondisi Papi?" tanya wanita itu tanpa berbasa-basi.

"Belum ada konfirmasi apapun dari Dokter" beritahu Khaisan menghela napas berat.

Aliza memilih mendudukkan diri di salah satu kursi, ia menatap cemas pintu ruang rawat papinya.

"Sini, Erik biar aku aja yang gendong" pinta Kevin mengambil alih sang Anak yang terlelap dari pangkuan istrinya. Wanita itu tersenyum tipis seraya mengelus lengan mungil anaknya lembut.

"Semua akan baik-baik saja" gumam Kevin mengusap surai istrinya.

Aliza mengangguk pelan, pandangannya tak terlepas dari pintu yang masih tertutup rapat.

"Aku bingung kenapa Papi gak bilang kalau sedang sakit atau merasa kondisi kesehatannya menurun, padahal kita satu rumah tapi dia seperti menutup diri. Sampai-sampai dia sakit pun aku gak tahu" ucap Sandra kembali duduk ke tempatnya semula.

Untung saja ia keluar kamar untuk mengambil air putih, kalau tidak entah apa yang terjadi pada ayah mertuanya itu. Pria itu tak ada mengatakan jika kondisi kesehatannya menurun, beliau bahkan melakukan aktivitas seperti biasa.

"Karena Papi terlalu enggan meminta bantuan Kakak, dia mungkin merasa tidak pantas setelah apa yang dia lakukan kepada kakak dan juga Reyhan. Sama seperti aku, dia merasa sangat bersalah" sahut Aliza menyandarkan punggungnya ke tembok.

"Perginya Reyhan itu seperti pukulan keras yang menyisakan lebam, dia pergi tanpa mengatakan apapun, tanpa memberi maaf atau semacamnya."

"Papi pasti sangat menyesal dan tidak tahu bagaimana cara memperbaiki kesalahannya. Aku bisa mengerti itu, karena aku juga merasakan hal yang sama" ujar Aliza menyorot sendu kakak iparnya.

"Memang benar kata orang, penyesalan akan selalu ada di akhir dan menjadi bagian paling menyakitkan" timpal Alfian yang berdiri di dekat pintu UGD.

Rasa sesak tak pernah mereda, bayang-bayang penyesalan terus menggentayangi.

Mereka terus berharap waktu bisa di putar agar apa yang dialami hari ini bisa diubah. Akan tetapi alam semesta tidak berpihak, mungkin terlalu muak melihat tingkah mereka yang tak mau menghargai sosok yang sebenarnya tidak patut di musuhi.

"Sebenarnya aku masih tidak menyangka bahwa hari di mana aku mengantar Reyhan ke Bandara adalah hari di mana perpisahan panjang ini di mulai. Dia tidak pernah pulang, tidak memberi kabar, dan itu benar-benar membuatku sadar. Bahwa, apa yang disia-siakan akan pergi dan mungkin tidak akan pernah kembali lagi" ucap Khaisan menerawang jauh pada memori bertahun-tahun silam.

Tak Satu Arah [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang