57

3.7K 194 35
                                        

"Tutup matamu dan rasakan betapa dunia menyayangimu meski caranya terkesan tidak menyenangkan."

_Reyhan Arsenio Ghazanvar_



Happy Reading

***



Sepi, satu kata yang menggambarkan suasana di dalam bangun besar itu, seakan tak berpenghuni. Hanya para pekerja saja yang berlalu lalang menyelesaikan tugas masing-masing, sementara sang majikan hanya duduk termenung tanpa berbicara sepatah katapun.

Semenjak beberapa hari terakhir para anggota keluarga di rumah itu seperti kehilangan gairah hidup, makan beberapa suap lalu kembali merenung. Entah kenapa mereka lebih memilih menyendiri ketimbang berkumpul seperti biasanya, baik ketika sarapan ataupun makan malam mereka tak lagi bersama-sama.

Salah satunya pria paruh baya yang kini melangkah memasuki rumah lebih awal dari biasanya, dengan penampilan jauh dari kata rapi ia menaiki pijakan tangga. Mengabaikan para ART yang menatap penuh tanya ke arahnya.

Mendorong daun pintu bercat coklat Khaisan mengedarkan pandang menyapu sekeliling ruangan, berharap wanitanya telah kembali.

Sayang seribu sayang harapnya kembali patah.

"Kalian kapan pulang?" gumam pria itu seraya meletakkan tas kerjanya di atas sofa.

Lima hari berlalu membuat ia kian tenggelam dalam lautan penyesalan, hidup serasa hampa tanpa sosok istri dan anaknya. Sekalipun Alfian masih ada bersamanya. Akan tetapi anak itu lebih menutup diri tidak lagi mau bertegur sapa dengan dirinya.

Ia teramat menyadari sikap labilnya lah yang menjebak keluarganya dalam luka. Ia terlalu pengecut untuk berani mengambil sikap.

Andai saja dulu ia berani menolak menikahi Zoya, pasti Sandra tidak merasa dikhianati dan  seandainya ia tegas dalam mengambil keputusan pasti keluarganya tidak akan berantakan seperti ini.

Sandra tidak akan meninggalkannya, Reyhan tidak mungkin membenci dirinya, dan kedua anaknya tidak akan berseteru seperti sekarang.

Namun, apa boleh buat. Penyesalannya sudah terlambat. Cintanya pergi, kedua pangerannya tak lagi menganggap ia berarti.

"Maaf, maafkan Papa, Rey," sesal Khaisan mendudukkan diri di pinggiran kasur.

"Papa selalu menuntut kamu bersikap dewasa, tapi justru Papa yang kekanak-kanakan."

"Papa mengatakan kamu selalu gagal tetapi pada kenyataannya Papa lah yang gagal." Khaisan meremat dada sesak.

"Papa tidak bisa menjadi sosok ayah untuk kamu, Reyhan! Papa gagal!" parau pria itu penuh kekecewaan pada diri sendiri.

Ia memukul anaknya, memarahinya terlalu kasar, membandingkan dengan anak yang lain. Sampai rasanya seribu maaf pun tidak bisa menghapus jejak menyakitkan yang ia tinggalkan.

"Maaf aku gagal, gagal menepati janjiku Sandra," ucap Khaisan menyesali keterdiamannya selama ini.

Perlahan jemarinya terulur meraih bingkai foto dari atas nakas, senyum tipis terukir memandangi potret cantik wanita yang membuatnya tergila-gila karena cinta.

Wanita yang menemaninya saat suka maupun duka, wanita yang menjadi sandaran ketika lelah menerpa jiwa, wanita yang selalu sabar menghadapi segala sifatnya. Namun, kini wanita itu pergi bersama buah cinta mereka.

"Aku sangat mencintaimu, sayang," parau Khaisan mengusap foto istrinya lembut.

Bulir-bulir bening luruh dari netranya, isak tangis tak bisa disembuhkan. Hatinya benar-benar hancur dan jiwanya terasa hampa, tanpa adanya keluarga yang ia pertahankan selama bertahun-tahun.

Tak Satu Arah [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang