Udara di Boston tengah dingin-dinginnya saat Ales menenteng belanjaan dari supermarket kembali ke penginapan. Dikarenakan Ales dan Sean akan stay selama kurang kebih 1 minggu dan berpindah-pindah negara, jadi agenda belanja itu dilakukan di hari ini, hari pertama keduanya landing di Boston.
Sean masih tertidur nyenyak saat Ales kembali kedalam penthouse yang mereka sewa karena privasinya yang dikenal juara. Saking lelahnya Sean, gadis itu sampai tak sengaja tertidur di sofa dengan posisi tengkurap karena menunggu Ales pulang berbelanja. Ales tersenyum memandangi bagaimana pipi Sean terjepit dalam tidurnya, membuat bibirnya membentuk pout.
Oceana itu terlalu sempurna, bahkan di saat seperti ini.
Ales membereskan satu persatu semua peralatan dan kebutuhan mereka yang baru ia beli tadi, menaruhnya di masing-masing tempat. Cabinet, rak, laci dapur, bahkan ke dalam kulkas. Lelaki itu mengelap keringat di dahinya saat selesai membereskan barang belanjaan, ia melirik kearah arlojinya.
Seharusnya sekarang sudah jam Sean minum obat, tapi tak tega rasanya membangunkan gadis mungil itu dari tidurnya. Jadi, lelaki itu memilih membiarkan Sean tidur sedikit lebih lama lagi. Ia sendiri bergegas mandi guna menyegarkan tubuhnya yang juga lelah setelah perjalanan panjang. Ales menyaksikan bagaimana tubuh Sean sama sekali tak bergerak dari terakhir kali ia melihatnya, mengundang senyuman ke wajah Ales.
Lelaki itu mendekat dan berlutut di sisi sofa, kemudian mengecup pipi Sean singkat. "Oceana, bangun dulu.. Udah waktunya kamu minum obat".
Sean masih belum berkutik, gadis itu malah membalikkan tubuhnya membelakangi Ales, sang pilot tertawa melihat gelagat menggemaskan Sean. Jemarinya mencolek lengan Sean lembut agar gadis itu bangun.
"Oceana, bangun sebentar, cuma minum obat aja, habis itu boleh tidur lagi". Ucap Ales lagi.
Sean melirik Ales dari pundaknya. "Aku ngantuk, tau".
Tawa Ales menggema di ruangan. "Iya, maaf udah ngebangunin ya. Tapi kamu harus minum obat dulu, ayo bangun".
Sean kemudian memilih duduk dan menggosok matanya yang masih sulit terbuka. Tangan Ales otomatis membenahi rambut sang gadis yang berantakan dan memberikan 2 butir pil di telapak tangan Sean.
"Aku capek". Keluh Sean dengan wajah sebal.
Ales dengan telaten memberikan segelas air pada sang gadis dan menungguinya sampai menenggak pil di telapak tangannya. "Iya, udah boleh tidur lagi. Tidur dikamar ya, disini nanti badanmu sakit".
"Disini aja, aku capek mau jalan ke kamar". Balas Sean sembari beringsut untuk kembali merebahkan diri.
Namun, Ales mencegahnya dan mengangkat tubuh mungil itu dalam gendongannya. Sang gadis menyamankan diri didalam gendongan Ales, matanya langsung terpejam, dalam kondisi seperti ini, Sean bagai anak kecil yang tengah bermanjaan dengan sang ibu.
Ales menaruh tubuh Sean pelan-pelan di kasur, berupaya tidak membangunkan gadis yang ia sayangi itu. Selanjutnya, ia menarik selimut hingga ke batas leher Sean dan memberi kecupan di dahi sang gadis.
"Selamat tidur, Oceana".
———
Ales memasuki kamar saat hari sudah menjelang tengah malam, sudah lama sekali rasanya tidak mendapati seseorang berada di kamar yang sama dengannya. Namun, Ales heran saat melihat kasur itu kosong, Sean tidak lagi ada disana.
Matanya langsung mencari ke seluruh sudut, bahkan ke kamar mandi. Hingga akhirnya ia melihat pintu yang menuju ke balkon terbuka dengan angin malam yang meniup kedalam. Lelaki itu melangkah dan menemukan Sean disana, menatap kearah langit malam yang kelabu, tidak dihiasi bintang.
KAMU SEDANG MEMBACA
DEPARTURE TIME
RomanceSebuah lanjutan perjalanan cinta dari Ales, Captain Pilot penerbangan pesawat komersial ternama dan Oceana, artis kelas dunia mempertahankan cinta mereka. Ditengah cinta yang hampir berlabuh, selalu ada cobaan yang menanti. Entah cobaan itu berasal...
