Time skip to 9 months later..
———
"Ales? Ih kamu, nih. Aku suruh jagain Gili sebentar kok malah tidur?". Omel Sean sekeluarnya dari kamar mandi.
Gadis itu bersungut saat menyaksikan anak lelaki mereka, Gili, bermain sendiri ditengah kasur dengan Ales yang berbaring di sampingnya dan tertidur pulas. Sang pilot otomatis terbangun dan tersentak, menatap bingung kearah Sean yang langsung menggendong Gili dan mengecup pipi sang anak.
"Astaga, saya ketiduran, sayang. Maaf". Ucap Ales sembari mengucek matanya.
Sean bersikap protektif, mengomeli Ales sembari terus mengecupi pipi Gili. "Untung dia duduknya gak diujung kasur, Les. Bisa jatoh Gili. Aku padahal cuma titip tinggal buat mandi sebentar, gimana sih, kamu?".
Ales menggaruk lehernya yang tidak gatal. "Maaf, sayang. Saya beneran ketiduran. Capek banget pulang penerbangan Internasional".
Ales menyaksikan bagaimana Gili malah tertawa didalam gendongan sang Mama, seakan mengejek Papanya yang tengah diomeli. Raut wajah Ales berubah sewot. "Kok kamu malah ketawain Papa sih, Nak? Lagi diomelin ini?",
"Ales". Panggil Sean memperingatkan.
"Iya, ampun, cantik". Balas Ales.
Semenjak kehadiran Gili 5 bulan lalu di kehidupan mereka, Ales memang masih sering belajar membiasakan diri berbagi Sean dengan makhluk kecil yang wajahnya persis dengannya itu. Sean yang kini sudah resmi menjadi ibu, pun membagi sayangnya merata kepada dua bayinya, Gili dan Ales, bayi besarnya. Gadis itu seringkali bak bahan rebutan, terutama jika Sean sibuk memanjakan Gili dan menyerang bayi lelaki itu dengan afeksi. Ales biasanya akan mulai merajuk dan meminta perhatian darinya pula, membuat Sean kadang sampai geleng-geleng kepala karena perilaku sang suami yang makin manja.
Contohnya pagi ini, saat Gili dan Sean lebih dulu bangun dibanding Ales, yang baru pulang jam 3 pagi karena harus mengikuti rapat mendadak dengan tim penerbangannya. Pagi yang mulanya menyenangkan itu perlahan berganti rusuh saat Ales mulai bersungut karena Sean sibuk mengurus Gili hingga Ales tidak mendapatkan 'morning kiss' dari sang istri. Adegan merajuk itu baru berakhir ketika Sean membujuk Ales dengan tawaran blowjob, dan berakhir dengan sang lelaki kembali meraih senyumnya.
"Kayaknya kita harus hire Sus buat Gili deh, Les". Ucap Sean tiba-tiba, sembari turut bergabung di kasur luas bersama sang suami dengan masih menggendong Gili dalam pangkuan.
Gili dan tangan kecilnya mencoba meraih wajah Ales yang bersandar disebelah sang Mama. Membuat Ales gemas dan meraih jemari kecil itu terlebih dahulu dan mengundang tawa dari bayi lelaki itu. "Memang kenapa?".
"Kita kan sibuk, sayang. Kadang udah kelelahan banget jadi gak maksimal jaga Gili-Nya. Kasihan juga kalo sering di titip ke daycare. Mending diurus dirumah, sama Sus yang kita percaya". Balas Sean lagi.
Ales menatap kearah sang istri dan anak lelakinya bergantian. "Iya juga ya, Jadi kelihatan juga kalo dirumah bisa dicek di cctv".
Gili yang sejak tadi bermain dengan Ales tak sengaja menggigit jari Ales, dan membuat sang Papa reflek mengaduh. "Aduh!".
Raut Gili langsung berubah saat mendengar suara sang Papa yang terlampau kencang, anak itu mulai mencebikkan bibirnya pertanda akan segera menangis. Ales langsung meminta maaf saat menyadari suaranya mengagetkan sang anak. "Maaf, maaf. Enggak, Papa bukan lagi marah sama kamu. Papa kaget soalnya kamu udah ada giginya, jadi sakit".
Namun terlambat, Gili sudah lebih dulu menangis kencang, membuat Sean memelototi Ales dan kembali memarahinya. "Ales, kamu nih! Kenapa teriak sih? Jadi kaget dia".
Ales memilih melesakkan kepalanya ke bantal saat Sean bangkit dan mengelus-eles punggung sang anak untuk menenangkan. Sean berulang kali mengucap kata cinta dan maaf pada Gili, yang perlahan seakan tersihir dengan sentuhan sang ibu dan terdiam dalam pelukannya.
Entahlah, sekarang ini, Ales rasanya akan selalu menjadi nomor dua bagi Sean.
———
"Nih, kontrak baru lo. Baca dulu deh, gue agak bingung juga jelasinnya. Tapi intinya permintaan lo dikabulin, lo boleh atur waktu sesuai keperluan anak juga". Jelas El pada Sean, menyodorkan 3 lembar kertas yang sudah ditanda tangani sebelumnya oleh agency Starsun, agency yang menaungi Sean.
Sang gadis tersenyum manis. "Starsun emang gak bisa jauh dari gue. Jadi, lo juga gak di rotate ke artis lain kan?".
El hanya menatap malas sebelum menjawab. "Enggak, udah buruan deh. Habis ini gue mesti ke Potato Head, ketemu tim dari production house yang mau kasih brief".
"Gue gak ikut gak apa-apa? Lo udah bilangin mereka belom?". Tanya Sean sembari menandatangani berkasnya.
"Udah, mereka gak masalah. Mereka tau lo ribet belom ada baby sitter". Balas El singkat.
Bagai panjang umur. Dari area kamar, terdengar suara Ales yang berteriak memanggilnya. "Oceana! Ini popoknya pakai yang ada perekat atau yang celana?".
Sean menghela nafasnya dalam. "Gue padahal udah kasih tau ini berulang kali, El. Percaya gak?".
"Oceana?". Seru Ales lagi dari dalam kamar, menanti jawaban dari sang istri dalam agenda memandikan Gili dan memasangkan popok sang anak.
"Yang ada lemnya, Ales. Yang celana cuma dipake kalo pergi". Seru Sean balik, memandu Ales dari ruang tamu dan baru kembali berfokus pada berkasnya setelah mendengar kata 'oke' dari sang suami.
El terkekeh menyaksikannya. "Ribet ya punya bayi, Ales juga jadi turun tahta. Biasa gagah jadi pilot, nerbangin pesawat, sekarang gantiin popok anak".
"Emang. Makanya lo kalo belom siap jadi Bapak, pake kondom tiap ngewe". Balas Sean singkat, sembari mengembalikan berkas kepada El. "Nih, udah gue tanda tangan. Lo atur deh, yang mana yang jadwalnya fleksibel gue oke aja pokoknya".
"Iya. Entar gue sorting. Yaudah, gue cabut ya. Salamin ke Ales". Ucap El sembari bangkit.
Namun, lelaki yang baru diomongi itu malah muncul dengan menggendong Gili yang sibuk mengenyot jempol kecilnya sendiri. "Mau kemana, Adriel? Buru-buru amat".
"Mau meeting dia, sayang. Terus sekalian setoran. Kan Iren baru sampai sini". Sean lebih dulu menyahut.
Ales dan Sean kompak terkekeh. Ales lebih dulu mengomentari. "Wah, pasangan baru lagi hangat-hangatnya ya".
"Iya. Skandal baru juga tuh, artis sama manager beda agency. Lagi seru-serunya ngumpet". Sahut Sean.
"Ngaco aja lo berdua. Udah lah, gue cabut dulu, Les. Buru-buru". Balas El.
"Da!". Suara itu menggema, dengan mengacungkan lima jemari kecilnya, Gili mencondongkan tubuh kepada El, seakan meminta digendong.
Sean menatapi wajah sang anak. "Apa sayang? Mau digendong om El?".
El yang mulanya menolak, pada akhirnya luluh juga saat melihat Gili merengek dan memintanya untuk menggendongnya. Seperti Sean, Gili pun seakan memiliki kedekatan batin dengan El, pasalnya anak itu akan jauh lebih tenang saat berada di tangan El.
"Anteng tuh. Gak mau lo bawa dulu, El? Biar gue bisa berduaan sama Ales?". Ucap Sean usil.
El langsung buru-buru mengembalikan Gili ke gendongan Ales, membuat bayi itu terlihat bingung. "Gak dulu deh, hari ini bukan jadwal gue jadi babysitter".
———
❤️❤️❤️❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
DEPARTURE TIME
RomantikSebuah lanjutan perjalanan cinta dari Ales, Captain Pilot penerbangan pesawat komersial ternama dan Oceana, artis kelas dunia mempertahankan cinta mereka. Ditengah cinta yang hampir berlabuh, selalu ada cobaan yang menanti. Entah cobaan itu berasal...
