Chapter 60 - The Hurt

2.5K 210 22
                                        

Sean tidak sanggup menatap wajah Ales sekalipun saat sang suami masuk kedalam kamar. Derap langkah sang lelaki pun tertahan sejenak, seakan merasakan gelisah yang istrinya rasakan atas kehadirannya. Ales tahu Sean belum tidur, sebab nafasnya belum teratur. Hidup bersama Sean selama beberapa tahun membuatnya menghafal betul satu persatu hal mengenai sang gadis tanpa disadari.

Ales memilih masuk kedalam kamar mandi tanpa menyapa sang istri terlebih dahulu dan hal itu membuat airmata Sean jatuh turun membasahi bantal yang ia tiduri. Memang, Sean sadar betul ada yang salah dengannya. Ia sendiri tak tahu apa maunya. Sean rindu setengah mati pada Ales, tapi juga tak ingin lebih dulu menyapa. Tapi, dicampakkan begitu saja juga membuat hatinya sakit bukan main.

Terlebih, setelah membersihkan diri, Ales malah memilih keluar dari kamar dan berjalan menuruni tangga menuju lantai satu, terdengar dari langkah kakinya. Airmata Sean makin deras jatuh, sebab jelas betul Ales mencampakkannya secara terang-terangan. Biasanya, setiap pulang dari jadwal terbang, lelaki itu akan memeluknya, berupaya membangunkan Sean meski sang gadis sudah terlelap.

Tangisan Sean langsung tertahan sesaat ketika Ales kembali masuk kedalam kamar dan beralih untuk duduk di kasur, tepat disebelahnya. Perbedaan itu kian terasa ketika setelah menyelimuti Sean, Ales memilih tidur tanpa memeluknya. Sean bisa mencium aroma harum dari sang lelaki, membuat rasa rindunya makin mencuat tak karuan. Tapi, Sean rasanya takut untuk berbalik dan menunjukkan wajahnya pasca menangis. Tak lama kemudian, suara dengkuran halus mulai terdengar, Ales sudah tenggelam dalam alam mimpi, tanpa memberinya ciuman di kening maupun memeluknya dalam tidur seperti biasa.

Mungkin, pikiran Sean benar. Mungkin, Ales memang sudah tak tertarik padanya lagi.

Paginya, usai menyiapkan sarapan untuk Ales dan Gili, Sean mendelegasikan agenda menyuapi Gili pada Sus yang menjaga kedua anaknya itu, sedang ia memilih beranjak untuk langsung kembali ke kamar. Namun ditengah langkahnya menuju ke lantai atas tempat kamarnya dan Ales berada, Sean tak sengaja berpapasan dengan sang suami yang baru saja turun dari lantai atas.

"Oceana? Mau kemana?". Sapa Ales lebih dulu dengan wajah bingung, lelaki itu tengah mengusal rambutnya yang masih setengah basah.

Sean hanya melirik sekilas. "Mau keatas".

Ales menahan langkah Sean lebih dulu. "Kamu udah sarapan duluan? Kok gak tungguin saya?".

"Aku gak laper". Balas Sean ketus sebelum memilih naik ke lantai atas tanpa memedulikan tatapan Ales yang meniti kearahnya.

Ales kemudian memilih berjalan menuju ke ruang makan dan menemui Gili, anak lelakinya yang kini tengah duduk di kursi makan dan melahap sarapannya dengan tenang. Mata Gili langsung berbinar tatkala melihat sang Papa, Ales, berjalan mendekat. Anak lelaki itu langsung mengacungkan sendok di tangannya. "Papayes!".

"Bos". Sahut Ales, mengucap panggilan kesayangan untuk anak sulungnya itu. Ales memilih duduk di samping Gili, kemudian mengisyaratkan bagi sus yang menjaga untuk membiarkan Ales gantian menyuapi sang anak.

"Makan apa, Bos? Brokoli ya?". Tanya Ales pada Gili, yang kemudian disambut dengan anggukan semangat. Ales terkekeh, mencubit pipi gembul Gili dengan gemas.

Gili mengacungkan telunjuknya ke pipi Ales yang memang jaraknya dekat darinya. "Papa, Mam".

"Iya, ini Papa mau makan. Kita sarapan bareng ya, jagoan". Sahut Ales menanggapi.

Suara tangisan terdengar dari lantai atas, nampaknya Leci terbangun karena haus. Hampir saja Ales menyudahi kegiatan makannya dan berlari keatas saat mendengar tangisan Leci yang tak kunjung henti, tapi, ternyata sus sudah lebih dulu menggendong bayi cantik itu dan membawanya kebawah, ke dekat meja makan Ales.

DEPARTURE TIME Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang